NICE
– Rasa kantuk dan lelah sehabis perjalanan panjang dari Jakarta menuju
Prancis-Nice, langsung hilang beberapa saat sebelum pesawat yang kami
tumpangi mendarat di Nice-Cote d’Azur International Airport, awal
November lalu.
Memasuki musim dingin yang serbakelabu di daratan
Eropa, Nice menawarkan pemandangan yang sungguh berbeda. Dari atas
pesawat, kami –delapan wartawan asal Singapura, Malaysia dan Indonesia
yang diundang atas kerja sama Air France-Le Meridien-Maison de la
France untuk mengunjungi French Riviera alias Cote d’Azur—bisa
merasakan cerah dan hangatnya sinar matahari dipadu dengan debur ombak
yang bergulung-gulung di bawahnya, seakan mengajak kaki kami untuk
berendam di dalamnya.
Benar saja, begitu melangkahkan kaki keluar
dari bandara, udara Nice yang hangat dengan suhu sekitar 14 derajat
Celsius, bagaikan sapaan ramah yang menyambut kedatangan kami yang
terbiasa hidup di negeri tropik. Sepanjang jalan utama Promenade Des
Anglais yang membelah jantung kota Nice, mata akan dimanja dengan
pemandangan yang menakjubkan. Di sebelah kanan, pantai berpasir putih
dengan air yang biru jernih terbentang sepanjang mata memandang.
Suasana santai dan liburan langsung terasa. Beberapa perempuan cantik
bertubuh molek berselonjor mandi matahari. Sementara pasangan di
sebelahnya, asyik berciuman, seakan dunia hanya milik berdua. Sungguh
romantis!
Sementara di sebelah kiri jalan, pemandangannya juga tak
kalah mengasyikkan. Sepanjang jalan juga dipenuhi berbagai bagunan
apartemen bernuansa art deco, yang di lantai bawahnya dipenuhi café,
restoran, toko, butik dan juga casino. Mata kita akan dibuai dengan
warna-warni cerah dari tenda yang dipasang di depan bangunan atau
teras—seperti merah, hijau, kuning, biru—yang menyatu dengan hangatnya
matahari.
Yang membuat Nice istimewa selain dari
temperaturnya yang hangat sepanjang tahun adalah dua kekayaan alam
sekaligus yang dimilikinya. Di sebelah selatan kita bisa menikmati
hangatnya udara laut. Di sebelah utara kita juga bisa melihat puncak
gunung Alpes d’Azur yang ditutupi gundukan es. Pada puncak musim dingin
di bulan Februari, penduduk setempat ataupun turis bisa bermain ski di
puncak gunung. Jika bosan dan merindukan hangatnya matahari, kita bisa
langsung turun ke pantai, cukup dengan kaos atau bikini. Unik, tapi
nyata.
Selain keindahan alamnya, Nice juga terkenal dengan
keindahan arsitekturnya dan bangunan bersejarah. Sebagai ibu kota Cote
d’Azur alias French Riviera, Nice menawarkan beragam seni arsitektur
peninggalan masa pendudukan Yunani dan Romawi, mulai dari Baroque,
Klasik, Belle Epoque, Art Deco hingga kontemporer. Yang tak bisa
dilewatkan adalah Kota Lama Nice yang masih mempertahankan kecantikan
arsitektur baroque dari abad ke-17-18, seperti Palais Lascaris, yang
sekarang menjadi museum seni rakyat dan tradisi, Gedung Pengadilan
(Palais de Justice) yang dibangun tahun 1892 yang selesai dimodifikasi
tahun 2000 serta Gedung Prefecture lama, bekas istana Raja-raja
Sardinian. Tak ketinggalan bangunan-bangunan gereja, seperti The
Cathedral (Sainte-Reparate), Gereja Saint Rita, terutama Chapelle de la
Misericorde yang sungguh cantik. Sebagai kota yang dikenal artistik,
Kota Lama Nice ini juga banyak ditemukan berbagai galeri seni dan
toko-toko kerajinan tangan.
Antibes
Kota kecil peninggalan
Yunani yang letaknya diapit Nice dan Cannes ini, dikenal sebagai kota
yang pertama kali menggelar Festival Jazz di Eropa sejak tahun 1960
yang masih terus berlangsung hingga kini. Kalau jazz begitu populer di
Antibes, ini berkat dua masterpiece jazz pertama di dunia, Louis
Armstrong dan King Oliver yang tahun 1923 tinggal di Cap d ‘Antibes dan
memperkenalkan musik Afro-Amerika pada masyarakat setempat, hingga
akhirnya lahir festival yang diberi nama Jazz in Juan. Festival yang
digelar setiap bulan Juli ini, telah menghadirkan artis-artis jazz
kenamaan dunia, macam Marcus Miller, Wynton Marsalis, Salif Keita,
Diana Krall, James Carter hingga Joshua Redman.
Tidak
hanya populer dalam musik jazz, Antibes juga terkenal sebagai kota seni
dan budaya. Ini berkat kehadiran sejumlah seniman besar yang terpikat
pada kekayaan alam Antibes dan banyak menghasilkan karya di sana, mulai
dari Meissonnier, Monet, Nicolas de Staël hingga Picasso yang
menghembuskan napas terakhirnya di situ. Bahkan, kekayaan seni dan
budaya Antibes, bisa disaksikan dari berbagai museum yang tersebar di
kota yang berpenduduk lebih dari 73.000 orang itu. Antara lain Picasso,
Archaelogy Museum, Musee Peynet and du dessin humoristique, dan Musee
de la Tour (museum kesenian rakyat). Bahkan pahlawan Prancis, Napoleon
Bonaparte yang pernah tinggal Antibes, juga diberi penghargaan dengan
didirikannya Musee Napoleonien, yang masih menyimpan peninggalan pada
waktu ia mendarat tahun 1815 setelah melarikan diri dari Elba.
Cannes
Cannes
tidak bisa dipisahkan dari International Film Festival, sebuah
penghargaan bagi insan perfilman yang paling bergengsi di dunia. Tak
bisa dipungkiri, salah satu objek wisata yang paling sering dikunjungi
turis adalah Palais des Festivals, tempat diselenggarakannya festival
film yang sudah berdiri sejak tahun 1946 itu.
Namun, bila berkunjung
di luar bulan Mei, jangan harap bisa menyaksikan karpet merah atau
gemerlapnya dunia artis. Sebagai pengobat kekecewaan, kita bisa
menyusuri Allée des Etoiles du Cinéma, deretan cetakan tangan para
artis dan pekerja film dunia yang pernah hadir di Festival Cannes.
Mulai dari artis dan pekerja film lokal, hingga Hollywood, seperti
Sharon Stone, Spike Lee dan Richard Gere.
Dari Palais des Festival,
perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri kota tua, Le Suquet yang
menghadap pelabuhan lama dan dikelilingi bangunan-bangunan bersejarah
seperti Chapel Saint Anne dari abad ke-12, Castre Museum dan Gereja
Notre-Dame d’Esperance yang dibangun pada abad ke-17.
Dua lokasi
lain yang sayang untuk dilewatkan adalah rue Meynadier, jalan khusus
bagi pejalan kaki yang banyak menjajakan makanan khas lokal, seperti
keju, kue-kue manis serta kerajinan tangan. Tempat lainnya adalah pasar
Forville, tempat para nelayan lokal menjual hasil tangkapannya. Pada
hari Senin, tempat ini disulap sebagai pasar loak.
St. Paul de Vence
Dari
sekian banyak kota yang kami kunjungi di wilayah French Riviera,
Saint-Paul de Vance yang terletak sebelah utara antara Antibes dan Nice
adalah tempat favorit saya. Betapa tidak, desa mungil yang terletak di
atas bukit peninggalan abad pertengahan ini memiliki pemandangan alam
yang luar biasa. Dari balik tembok batu tebal yang mengelilingi Saint
Paul –sebagai pertahanan terhadap serangan Italia di masa lampau— kita
bisa menyaksikan hijaunya rerimbunan pohon dan ladang anggur di kaki
bukit. Sementara di sekeliling desa, mata kita akan dimanjakan dengan
berbagai galeri, gereja, hotel, café hingga kios-kios kecil yang
menjajakan cendera mata ataupun makanan tradisional setempat yang masih
mempertahankan keaslian bangunan batu di masa lampau.
Meskipun
banyak pula bangunan yang sudah hancur dimakan zaman, ada beberapa
bangunan yang masih bertahan sejak abad pertengahan dulu, seperti kamar
bawah tanah dan menara machicolation, namun yang paling menyolok adalah
bangunan arsitekturnya yang menggambarkan periode Rennaissance dari
abad ke-16 hingga ke-18. Kini, ada 7 monumen dalam desa itu yang
tercatat sebagai bangunan bersejarah.
Sejarah Saint-Paul lainnya,
dicatat ratusan tahun kemudian oleh para pelukis terkenal seperti
Chagall, Calder, Leger, Prevert, Montand dan Ventura yang secara
berkala datang ke Saint-Paul untuk mencari inspirasi. Meski mereka
sudah lama tiada, jiwa artistik di Saint-Paul terus berlangsung dengan
kehadiran berbagai studio yang menawarkan seni lukis dari berbagai
aliran, mulai dari gaya abstrak Povencal hingga kontemporer. Beberapa
seniman modern yang membuka studionya di Saint-Paul antara lain adalah
Pesce, Orsoni, Tobiasse, Verdet dan Zivo.***
By: Dina Sasti Damayanti
Source: http://jalanjalan.multiply.com/journal/item/25/French_Riviera_-_selayang_pandang
|