Teman-teman saya sering bertanya, “Apa enggak pusing kamu ngurusin belanjaan? Apalagi sekarang ada bayi, kebayang deh repotnya.”
Repot
sih tentu saja masih, karena di sini semua dilakukan sendiri.
Masalahnya tinggal bagaimana kita pintar mengorganisasikan waktu secara
tepat dan benar. Nah, sejak ribut-ribu soal krisis ekonomi global
beberapa waktu lalu, banyak orang mulai bersikap bijak membelanjakan
uangnya. Di Perancis, saya rasakan benar, bagaimana mereka begitu
teliti memperhitungkan ekonomi rumah tangga mereka.
Salah
satu kiat berhemat masyarakat adalah belanja di supermarket diskon. Apa
itu? Supermarket diskon adalah toko yang menyediakan produk sehari-hari
dengan harga lebih murah dibanding supermarket ternama. Mereka bisa
menjual lebih murah karena produk yang ditawarkan tak pernah kita
ketemui dalam iklan dan cara penataannya pun tak secantik supermarket
besar.
Siapa yang peduli dengan tataan yang apik jika uang
yang dikeluarkan lebih banyak? Selama isi kandungan produk dan rasanya
hampir sama persis dengan merek ternama, tentu saja supermarket diskon
lebih dilirik orang. Soal fasilitas, tentu saja minimal, karena
karyawan supermarket itu terbatas. Hal ini dilakukan demi menekan harga
produk penjualan.
Supermarket diskon ini umumnya masih satu
grup dengan supermarket ternama. Tapi tentu saja, supermarket ternama
seperti Carrefour atau Casino tak ingin bangkrut. Mereka pun
meningkatkan pelayanan agar konsumen yang lebih suka belanja dengan
kenyamanan tak pindah kelain hati.
Nyamannya berbelanja
Kenyamanan
berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan di sini tidak hanya menyangkut
penataan barang yang cantik, tapi juga pelayanan yang diberikan
termasuk memperhatikan para penyandang cacat dan wanita hamil. Setiap
pusat perbelanjaan menyediakan satu lorong kasir khusus bagi penyandang
cacat dan wanita hamil. Di depan kasir terpampang lambang wanita hamil
dan penyandang cacat dengan tulisan “diutamakan bagi mereka”.
Kasir
ini sebenarnya juga melayani pembeli umum, hanya saja pelayanannya
diprioritaskan bagi wanita hamil atau penyandang cacat. Jadi, siapapun
bisa membayar di kasir itu, tapi jika ada wanita hamil atau penyandang
cacat datang, wajib hukumnya untuk mengalah dan memberikan tempat bagi
mereka membayar lebih dulu.
Di sejumlah negara di Eropa para
penyandang cacat umumnya melakukan aktivitas sehari-hari secara
mandiri. Hal ini dimungkinkan karena sejumlah fasilitas publik memberi
ruang yang mempermudah aktivitas mereka. Di Perancis, misalnya, ada
tempat parkir khusus untuk para penyandang cacat. Fasilitas khusus bagi
mereka yang berkebutuhan khusus sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
Nah,
khusus soal belanja ini, ada metode pembayaran yang sangat nyaman yaitu
kasir cepat atau pindai cepat (scan express). Dengan ini pembeli tidak
perlu berhadapan dengan kasir untuk melakukan pembayaran. Kalaupun
harus berhadapan dengan kasir barangnya tidak boleh lebih dari 10-15
produk.
Sistem ini sangat membantu menghemat waktu. Konsumen yang
berbelanja kurang dari 10-15 barang tak perlu lagi mengantri terlalu
lama di depan orang yang berbelanja satu keranjang penuh. Saya sering
sekali mengalami hal itu. Rasanya gregetan minta ampun saat melihat
orang di depan saya mengeluarkan barang banyak dan mengeluarkannya
pelan-pelan satu per satu. Lebih gregetan lagi kalau orang itu termasuk
tipe orang yang suka ngobrol. Orang Perancis terkenal suka ngobrol.
Bertemu kasir pun ngobrol panjang lebar. Jadilah, kita harus antre lama
sekali hanya untuk urusan bayar.
Nah, sudah hampir tiga tahun ini
saya berbelanja dengan sistim pindai cepat. Sejak sistem ini dibuat,
bukan main hematnya waktu saya dalam berbelanja dan kerepotannya pun
berkurang.
Bagaimana sistem ini bekerja? Sebelum berbelanja,
konsumen yang terdaftar sebagai langganan supermarket tersebut mendapat
satu alat pemindai (scan) untuk dibawa. Bentuknya seperti remote
control dengan layar mini. Setiap keranjang belanja dan troli sudah
dilengkapi tempat khusus untuk menaruh pemindai ini.
Dengan alat
ini, pembeli bisa melakukan pemindaian sendiri atas barang yang
dibelinya. Tempelkan saja barcode pada tiap produk ke alat ini seperti
yang biasa dilakukan kasir. Pada layar akan tertera harga barang
tersebut dan total belanja kita. Cara ini juga membantu pembeli
mengontrol belanjaanya tidak besar pasak daripada tiangnya.
Jika
total belanja terasa terlalu berlebihan, maka kosumen bisa mengurangi
beberapa barang yang sudah dibelinya. Ada fitur khusus untuk menghapus
daftar belanjaan. Jadi, tidak ada lagi istilah kaget dan pucat pasi
saat membayar di kasir.
Di Perancis, seperti lazimnya di sejumlah
negara Eropa, tidak ada lagi kantong plastik gratis. Kebijakan ini
diberlakukan untuk menekan polusi kantong plastik. Sudah menjadi
kebiasaan masyarakat di sini untuk membawa sendiri dari rumah tas
belanja. Selama berbelanja kita bisa langsung memasukkan barang-barang
belanjaan setelah dipindai.
Jadi, ketika selesai berbelanja kita
tinggal menyerahkan alat pemindai itu kepada kasir dan melakukan
pembayaran. Tidak perlu lagi mengeluarkan barang satu per satu.
Curang?
Sudah
pasti membaca akan bertanya, terus bagaimana bisa ketahuan kalau kita
curang atau tidak? Di Perancis, umumnya sebagian masyarakat malu untuk
bersikap curang. Di sekolah, ketahuan mencontek adalah hal yang sangat
memalukan.
Tapi ya namanya manusia, dorongan curang pasti ada.
Sistem pindai cepat ini pun mengundang orang untuk coba-coba jadi
maling kecil-kecilan. Biasanya pihak supermarket melakukan kontrol
secara acak terhadap tas belanjaan konsumen. Kalau ada yang curang dan
tidak kena kontrol ya orang itu beruntung. Tapi, kalau ketahuan itu
pasti akan jadi peristiwa yang memalukan buat orang itu.
Ada juga
kok yang ketahuan, entah karena kilaf lupa memindai atau memang berniat
curang. Mereka yang ketahuan "lupa" memindai barang yang dibeli tidak
akan dibawa ke kantor polisi. Biasanya, kasir akan menyapa, "Jumlah
sebenarnya yang Anda harus bayar adalah....."
Saat ini baru satu
supermarket yang menyediakan sistem belanja dengan pindai cepat. Saya
beruntung karena supermarket ini hanya 700 meter dari tempat tinggal
saya. Makanya walaupun harga yang ditawarkan terkadang sedikit lebih
mahal dari supermarket saingannya namun fasilitas canggih yang
ditawarkan membuat saya merasa lebih efisien dalam berbelanja.
Tak
ada lagi pengalaman antre yang bikin saya tak berhenti melihat jam,
karena takut telat menjemput anak di sekolah. Tak ada lagi kejutan
pahit saat angka euro tertera di mesin kasir. Dan,yang pasti tak perlu
repot mengeluarkan semua isi belanjaan untuk kemudian memasukannya
kembali.
Fasilitas pindai cepat ini ditawarkan gratis. Kita cukup
mendaftarkan nama dan alamat kita, lalu kartu langganan pun diberikan
tanpa ikatan apapun. Menarik bukan?
Oya, cara berbelanja lain
yang sedang marak ditawarkan supermarket adalah belanja lewat internet
atau telepon. Memang hal ini sudah lama ada, yaitu memesan belanjaan
lewat internet dan telepon, tapi bedanya adalah kita bisa ambil di
tempat, dalam arti semua belanjaan sudah berada dalam keranjang dan
kita tinggal memasukan dalam mobil. Atau diantar ke kediaman kita. Dan
semua itu gratis!
Bayangkan bagi orang yang tak memiliki waktu
untuk berbelanja di hari kerja, bisa menghemat waktunya dengan
fasilitas ini. Sehingga akhir pekan bisa melakukan aktivitas lainnya
ketimbang belanja kebutuhan sehari-hari yang pastinya padat.
Jakarta
Di
Jakarta sistem ini rasanya masih sulit diterapkan. Kantong plastik juga
masih belum dianggap sebagai sumber polusi. Antrean panjang dengan
kemungkinan gagal bayar karena "saluran sedang sibuk" juga masih sering
terjadi.
Wanita hamil yang mengantre sambil mengusap-usap
perutnya pun merupakan pemandangan yang lumrah. Rasanya jarang ada
konsumen yang rela mendahulukan ibu hamil untuk membayar lebih dulu.
Di
Perancis, barang yang telah dibeli umumnya bisa dikembalikan jika
memang tak cocok atau kualitasnya jelek. Kita berhak mendapatkan uang
seharga barang yang tidak jadi kita beli. Waktu yang diberikan untuk
mengembalikan suatu barang pun cukup lama, dua sampai empat minggu.
Saya
punya pengalaman berbeda di Indonesia. Saya membeli barang di sebuah
supermarket ternama asal Perancis yang bolehlah dibilang merajai
Indonesia. Barang yang saya beli ternyata tidak sesuai dan saya berniat
mengembalikannya. Ternyata, itu tidak mudah. Prosesnya ribet sekali dan
saya tak berhak mendapatkan uang kembali!
Padahal, di sini di
negara asalnya, manajemen supermarket itu sampai menelpon suami saya
meminta maaf karena roti yang suami saya beli terdapat serpihan kayu di
plastik pembungkusnya. Selain permintaan maaf dan pergantian uang
tentunya, kami pun mendapatkan hadiah sebagai tanda penyesalan pihak
mereka. Berbeda sekali memang cara penjual memandang konsumennya,
sangat disayangkan.
Tapi kecanggihan dalam berbelanja tidak
seratus persen menarik simpati masyarakat Perancis yang terkenal kolot.
Bagi mereka kehadiran kasir di mana mereka bisa sedikitnya bertukar
kata tak bisa tergantikan oleh sebuah mesin. Bahkan berbelanja di pasar
tradisional pun harganya jauh lebih mahal dibandingkan berbelanja di
supermarket yang menyediakan fasilitas serba moderen.
Saya
pribadi menyukai keduanya. Supermarket moderen menghemat waktu dan
kerepotan saya. Sementara pasar tradisional menawarkan kehangatan
interpersonal. Kami kerap mengunjungi pasar tradisional setiap sabtu
pagi sambil bertukar kata dengan si penjual di antara aroma segarnya
sayur manyur dan bau menyengat keju kesukaan suami saya...
E-mail ini dilindungi dari spam bots, kamu perlu mengaktifkan JavaScript utk melihatnya
sumber: kompas.com