Akhirnya setelah menunggu berapa lama untuk bisa melancong
ke Eropa saya berhasil mendapatkan visa untuk berjalan- jalan ke beberapa
Negara di Eropa Barat sebagai backpacker.
Namanya juga perjalanan mancanegara,
karena berkaitan dengan urusan kelengkapan dokumen dan biaya yang tidak
sedikit, maka semuanya sudah saya persiapkan dengan perencanaan yang sangat
matang beberapa bulan sebelumnya, terutama mengenai budget, karena saya
membiayai sendiri perjalanan ini dari uang tabungan hasil kerja selama 2 tahun
terakhir.
Perjalanan ini bukan hanya perjalanan fisik semata, tapi
memenuhi obsesi untuk bisa berwisata tidak hanya melakukan kegiatan standar
sebagai turis manis yang sibuk mengambil foto dan mengandalkan program dari
biro perjalanan, tetapi saya ingin mempunyai pengalaman yang seru juga mengenal
kebudayaan dan berinteraksi dengan orang-orang setempat dan backpacker dari
negara –negara lain.
Untuk pengurusan visa saja sudah memakan waktu dan perlu
strategi, terutama setelah adanya isu teroris sejak tahun 2003, beberapa Negara
yang tergabung dalam Schengen, memperketat persyaratan pengajuan visa. Untuk
backpacker yang bermimpi berjalan-jalan ke beberapa Negara di Eropa Barat,
dengan dana yang terbatas, harus pandai –pandai membaca ketentuan yang
ditetapkan tersebut sehingga permohonan visa kita tidak ditolak. Sebelumnya
saya sibuk surfing di Internet untuk mendapatkan data youth hostel yang murah,
aman dan aksesnya mudah dicapai tanpa perlu transportasi serta transportasi dan
akomodasi di sana. Saya memilih Negara pertama yang akan saya kunjungi Belanda
karena pengurusan visa di Kedutaan ini menurut saya prosedurnya tidak ribet dan
memakan waktu lama. Setelah diwawancara saat memasukkan pengajuan visa dan
persyaratannya, dan menunggu selama 8 hari, akhirnya saya bahagia melihat visa
Schengen dari Kerajaan Belanda ada di halaman 7 paspor saya. Puas, karena saya
mengurus sendiri permohonan visa tersebut.
Belanda
Tanggal 19 Mei saya berangkat jam 18.45 dari Bandara
Cengkareng dengan penerbangan KLM-810 menuju Schipol. Penerbangan ini memakan
waktu sekitar 13 jam dengan transit selama 2 jam di Bandara Kuala Lumpur
(dibandingkan dengan bandara Sukarno Hatta, walaupun sama-sama Negara di Asia
tenggara, tetapi Bandara KL jauh lebih bersih, modern dan nyaman), untunglah
dari Kuala Lumpur duduk manis di samping saya seorang laki-laki dari New
Zealand yang menjadi teman seperjalanan di pesawat, sehingga sisa waktu 10 jam
berikutnya tidak jadi membosankan. Teman seperjalanan saya ini bisa dibilang
terbang hampir setengah dunia, bayangkan saja, kalau dihitung – hitung dia
harus menempuh perjalanan dari New Zealand
Ke Dublin, Irlandia selama 24 jam dengan transit di 3
airport ! Dari dia juga saya mendapatkan masukan berharga tentang Bandara
Schipol yang super besar dan kota Amsterdam
Pertama menjejakkan kaki di Schipol Airport setelah urusan
imigrasi, saya sempat terbingung-bingung karena teman SD saya yang semula berjanji
akan menjemput ternyata tidak muncul karena ada keperluan penting, terpaksa
saya harus bertanya pada orang setempat bagaimana untuk mencapai tempat
penginapan yang sudah saya pesan melalui website jasa pemesanan hostel
internasional. Walaupun semua informasi / papan petunjuk dan nama jalan ditulis
dalam bahasa Belanda, tetapi untunglah kita tidak perlu bisa berbahasa Belanda
di sini, karena sebagian besar penduduk bisa berbicara dan mengerti bahasa
Inggris. Bandara yang bangunannya modern, bersih dan sangat besar ini mempunyai
fasilitas yang lengkap. Di Bandara Schipol kita oodbisa mendapatkan informasi
tempat-tempat wisata di Belanda dengan pelayanan yang professional dan ramah
dan tanpa perlu keluar gedung kita bisa mendapatkan kereta menuju beberapa kota
di Belanda.
Dari Schipol saya naik kereta dengan tiket seharga 3,60 euro
menuju Amsterdam Centraal selama 30 menit. Di depan Amsterdam Centraal terdapat
gedung kecil Amsterdam Tourism & Convention Board, yang lebih dikenal
dengan VVV, tempat turis/ traveler mendapatkan informasi lebih lengkap tentang
tempat wisata di Amsterdam dan beberapa kota sekitarnya, akomodasi, tempat
menginap, transportasi serta tiket wisata dan transportasi. Dengan memasukkan koin
2 euro di mesin, kita bisa mendapatkan peta Amsterdam. Sebenarnya kalau saya
cukup pandai membaca peta tersebut, tidak perlu pusing-pusing untuk menemukan
Youth Hostel yang saya tuju. Youth Hostel ini bahkan ada di tengah –tengah kota
Amsterdam, dan bisa berjalan kaki sekitar 10 menit dari Central station, tapi
karena saya belum mahir membaca peta dan kurang kenal kota ini, alhasil saya
terpaksa naik metro dan merogoh uang 1,60 euro, mondar mandir di Jalan NZ
Voorburgwal, kedinginan di tengah rinrik-rintik hujan dengan temperatur 9
derajat Celcius, serta mampir dulu di kedai kopi (Pie Applenya benar-benar enak
dan tidak terlalu mahal, hanya 2 euro) di pojok Jalan NZ Voorburgwal tersebut.
Hari pertama sebenarnya rencana saya seperti layaknya turis
yang pergi ke Belanda, adalah berkunjung ke Keukenhof untuk melihat hamparan
warna-warni bunga tulip mekar yang terletak tidak jauh dari Delft yang menurut
buku-buku panduan wisata Eropa adalah taman terindah di Eropa. Tetapi sayangnya
menurut petugas wanita di Gedung Pusat Informasi Wisata Amsterdam Keukenhof
sudah tutup tanggal 19 Mei. Untuk menutupi kekecewaan saya, saya memutuskan
pergi ke Volendam (kampung nelayan di Belanda). Dengan mengantongi tiket
pulang-pergi Ariva-waterland seharga 6 euro yang saya beli di VVV, saya naik
bis Ariva nomor 118 yang parkir tidak jauh dari
Central Amstermdam menuju Volendam. Volendam merupakan kota nelayan
yang indah dengan penduduk mayoritas beragama Kristen yang taat. Saya sampai di
sana sekitar jam 10.00 pagi dan kebanyakan toko-toko / restaurant di sepanjang
pantai itu tutup karena penduduk bergegas pergi ke Gereja untuk misa hari
Minggu. Di antara toko-toko ini terdapat Studio Foto yang menawarkan turis
mengabadikan kunjungan mereka ke Volendam dengan memakai baju tradisional
Volendam. Sebenarnya Belanda mempunyai beberapa baju tradisional, tetapi
mungkin yang paling terkenal dan menjadi ciri khas Belanda adalah baju daerah
Volendam yang oleh pemerintah Belanda setelah baju ini menang pada lomba baju
tradisional kemudian dijadikan trade mark belanda. Di depan /di etalase kaca
semua studio memajang foto-foto orang terkenal yang pernah berpose di studio
mereka, antara lain foto aktor atau olahragawan belanda dan Eropa, dan yang
membanggakan, mungkin karena banyak turis asing dari Indonesia yang selalu
mengunjungi daerah pinggiran pantai ini, mereka juga memamerkan banyak foto
selebritis Indonesia (yang sempat saya ingat Marisa Haque, Tasya, Meli
Manuhutu, Tamara Blezinsky, Rima Melati, bahkan ada juga mantan Presiden Gus Dur),
kelihatannya cara promosi mereka cukup berhasil mengundang turis asal
Indonesia, saat saya sedang berdiri di salah satu Studio foto, saya mendengar
seorang wisatawan Indonesia yang berkeras dengan temannya hanya ingin difoto di
Studio Gus Dur pernah berpose. Saya hanya senyum-senyum membayangkan mereka
harus meneliti dengan seksama foto-foto ukuran 5 R untuk menemukan wajah Gus
Dur dalam kemasan pakaian tradisional Volendam.
Sudah jauh ke Volendam rasanya ada yang kurang kalau tidak
menyeberang ke Marken, pulau kecil perkampungan nelayan di seberang Volendam.
Di depan loket penjualan tiket kapal ferry, dari jarak 5 meter saya sudah
mendengar teriakan kakek dalam beberapa bahasa (Inggris, Italia, perancis,
Spanyol, Jerman dan tentu saja Belanda) mengajak turis untuk naik ferry ke
Marken. Kapal- Kapal Ferry yang menyeberangi kami ke Marken semuanya dimiliki
dan dikelola oleh nelayan setempat dan anak-anak mereka. Di marken kita dapat
mengunjungi toko-toko souvenir dan restaurant turun temurun yang sudah ada
sejak seratus tahun yang lalu. Di sini kita juga bisa mencicipi hasil tangkapan
nelayan, berupa ikan tuna, udang, kepiting dan lain-lain dengan harga berkisar
2 – 4 euro per satu porsi kecil.
Dari Marken setelah menelusuri jalan NZ Voorburgwal dari
Amsterdam Centraal saya beristirahat sebentar di Dam Square. Beberapa turis
remaja yang baru turun dari stasiun sibuk menarik kopernya dengan buku Lonely
Planet : Europe di tangan. Di alun-alun ini semua turis menikmati sore hari
yang cerah di musim semi beberapa orang sibuk mengambil foto diri dan foto
gedung-gedung, Musium dan Gereja di sekitar Dam Square, beberapa orang asik
memberi makan ratusan burung merpati dan sebagian lagi melihat aksi senirupawan
yang berlagak seperti patung menggunakan baju Nostradamus menunggu orang –
orang yang lalu lalang di Dam square memberikan koin 2 atau 5 euro. Mau foto
berdampingan dengan Bono vokalis U2 atau Elvys Presley dengan biaya 17,5 euro ?
Di salah satu sisi Dam Square berdiri tegak Museum Madame Tussaud yang
sangat terkenal dengan patung lilin para selebritis dunia. Maka setelah berada
dalam antrian yang cukup panjang, beberapa menit kemudian saya sibuk mengamati
patung-patung para pemimpin dunia, ratu dan raja, dan para pesohor dunia lainnya
dari kalangan seni, musik dan olahraga. Patung penyanyi Inggris Robin William
George Clooney dan Bono (vokalis Grup Musik U2), Julia Robert, Lady Diana dan
Elvys Presley cukup menyedot minat banyak pengunjung untuk berfoto bareng
dengan gaya pengunjung yang tak kalah seru. Hanya saja sebelum bisa foto bareng
dengan orang-orang terkenal tersebut, kita harus mengalami pengalaman seru.
Sebelum melihat patung-patung berwajah tampan dan cantik itu, di bagian awal
terdapat bagian yang memaparkan sejarah berdirinya kota Amsterdam dengan
suasana yang buram, gelap dan menakutkan, dan lebih menakutkan lagi ketika
tiba-tiba muncul sosok lelaki besar dengan baju penuh bercak darah dan wajah
yang menyeramkan mengaum keras sambil dengan tangannya yang berusaha menyentuh
pengunjung. Spontan banyak pengunjung yang berteriak ketakutan, termasuk saya
sambil berlari secepatnya meninggalkan ruangan tersebut. Rupanya atraksi
tersebut adalah upaya pengelola museum untuk memberikan pengalaman yang berbeda
kepada para pengunjungnya, selain juga ditunjukkan proses pembuatan patung
lilin.
Keluar dari Madame Tussaud masih jam 18.30 dan langit Amsterdam
di musim semi masih terang. Saya memutuskan untuk menyusuri jalan sekitar
Amsterdam dengan berjalan kaki melalui Universitas Amsterdam terus ke area yang
cukup terkenal di Amsterdam, Red Light (nama asli jalan ini adalah
Nieuwendijk), semula sih saya ingin mengurungkan niat saya karena aura di sini
agak “menakutkan” untuk orang sepolos saya, apalagi saat langkah saya mulai
mendekati Red Light District dan melewati beberapa penjaga restaurant atau toko
sex berbadan besar dengan jas panjang berpenampilan klimis ditambah makin
mencekamkan karena pada saat saya ada di sana ada suara raungan mobil polisi.
Wah, saya tadinya mau berbalik badan dan kembali ke tempat menginap melalui
Unversitas Amsterdam dan Dam Square, tetapi saya pikir, daripada penasaran,
saya tetap cuek ke sana. Cukup miris melewati pemandangan perempuan-perempuan
muda dan cantik berpakaian minim yang dipajang di etalase kaca sepanjang gang
di Red Light. Di toko –toko yang dikunjungi wisatawan di sekitar kawasan ini
selain kaos bertuliskan Amsterdam, pernik-pernik lainnya (tas, topi dll)
bertuliskan Amsterdam atau gambar daun ganja juga dijual dan tentunya ganja
kering dan cannabis dengan berbagai macam kualitas dibungkus dalam plastic
transparan. Bukan hal yang aneh melihat pemadat asik menghirup marijuana dengan
bebasnya di jalan, pemerintah Belanda memang memberikan legalitas kepada
mereka. What a country ! Selain itu di sini banyak sekali jasa piercing dan
pembuatan tattoo.
Keesokan harinya saya memutuskan untuk memenuhi obsesi saya
lainnya, menikmati lukisan salah satu pelukis idola saya, penganut aliran
impressionisme – lebih tepatnya sih aliran pointilisme—van Gogh. Saya ingat
betul saya begitu kagum dengan lukisan pelukis yang bernama lengkap Vincent van
Gogh, ketika pertama kali saya mengenalnya dari pelajaran Seni Rupa di bangku
SMP. Karena letaknya cukup jauh dari Dam Square, saya harus naik Metro
untuk kesana. Ternyata benar juga saran pegawai di Pusat Informasi Pariwisata
kemarin, jauh lebih baik kalau saya sudah membeli tiket masuk di sana sehingga
tidak perlu menunggu dalam antrian yang sangat panjang di depan Museum Van
Gogh. Saya berada dalam antrian pengunjung dengan tiket masuk yang tidak
terlalu panjang, sedangkan di sisi saya antrian untuk mereka yang membeli tiket
masuk di Musium. Tepat jam 10 pintu masuk museum dibuka, para penjaga keamanan
dengan seragam warna hijau mencolok dan petugas berseragam jas hitam di dalam
museum sudah siap siaga dengan handi talkienya. Penjagaan keamanan di museum
ini sangat ketat, setelah melewati pemeriksaan di pintu masuk, tas atau jaket
harus dititipkan di tempat penitipan yang dijaga remaja-remaja setempat, untuk
mengabadikan lukisan-lukisan Van Gogh pun dilarang keras, kalau tidak petugas
berseragam jas hitam akan menegur kita.
Saya kagum dengan Vincent van Gogh Foundation yang mengelola
museum ini dengan professional, termasuk pula penyajian koleksi lukisan yang
sangat menarik. Hal ini mungkin terjadi karena mereka juga bekerja sama dengan
sebuah Bank besar di Belanda untuk mendanai program mereka. Seandainya
pemerintah Indonesia bisa melakukan hal yang sama, menarik minat wisatawan dan
penduduk Indonesia untuk mengunjungi museum… Pengelola memamerkan lukisan dalam
beberapa dekade kehidupan Van Gogh, dengan menampilkan tulisan rentetan
kehidupan Van Gogh sejak ia kecil, sekolah di Seminari hingga ia beralih
memulai karirnya sebagai pelukis dengan bekerja sebagai pemula di beberapa
kantor di Belgia dan Perancis. Ingin mengetahui perjalanan hidup dan
karya-karya Van Gogh? Ada satu ruangan khusus yang berisi banyak buku, dan juga
kalau kita lelah berkeliling gedung dan menaiki anak tangga gedung yang
berlantai 4 ini, kita bisa melihat koleksi museum di Komputer yang disediakan
di ruangan ini. Di ruangan ini pula kita diajarkan cara membuat lukisan seperti
yang dilakukan Van Gogh, misalnya dijelaskan bagaimana dan bahan untuk membuat
dasar kanvas sebelum memulai membuat lukisan, perbedaan lukisan Van Gogh dengan
lukisan pelukis aliran Pointilisme di era yang sama dengannya. Keluar dari
pintu keluar, terdapat toko souvenir yang menjual post card, buku, pembatas
buku dan bahkan poster berukuran besar reproduksi lukisan Van Gogh.
Brussel, Belgia
Keesokan harinya saya putuskan untuk melanglang ke Negara
tetangga, Brussel, Belgia. Brusel merupakan kota yang tidak terlalu besar.
Sebagian besar penduduknya berkomunikasi dalam bahasa Belanda dan Perancis,
jadi saya harus membawa kamus saku Perancis saya kemana pun saya pergi. Setelah
sebelumnya memesan kamar di Centre Vincent Van Gogh (Youth Hostel) yang
terletak di Rue Traversiere 8, maka saya naik kereta dari Amsterdam Central ke
Brussel Midi dengan harga tiket sebesar 33,4 euro. Hostel yang dikhususkan
anak-anak muda di bawah usia 35 tahun ini dulunya adalah semacam apartemen
dimana Van Gogh pernah tinggal, terletak tidak jauh dari Le Botanique jardin
(Taman Botanique). Hostel yang merupakan gedung tua ini, dikelola oleh
anak-anak muda sehingga jelas sekali atmosfir remajanya. Di Lobby semua
backpacker dari berbagai negara bisa saling berkenalan dan berbicara tentang
perjalanan mereka, minum bir atau minuman lainnya, surfing internet, atau
bermain bilyard di tengah ruangan yang hidup dengan musik rock yang menggema
memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas. Lobby ini semakin ramai setelah jam 6
sore, karena saat itulah kafe dibuka.
Tidak banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi di Brussel.
Hari pertama saya berjalan kaki menuju Le Botanique Jardin, Grand Place,
dan Museum Komik Smurf. Le Botanique merupakan taman kota dihiasi
tanaman-tanaman hias berwarna-warni dan kolam air serta patung-patung perunggu
yang sudah ada di situ sejak abad pertengahan. Saat itu saya melihat sekelompok
anak kecil laki-laki yang asik berteriak bermain bola, pasangan muda mudi yang
memadu kasih, turis yang sedang bergaya di depan kamera dan pejalan kaki yang
lebih senang melewati taman ini ketimbang harus melewati trotoar. Dari taman kota
saya melanjutkan jalan-jalan siang ke Grand Place, melewati Mall Super City
dan beberapa gedung kota yang bergaya Baroque. Sebelum sampai di Grand Place,
saya melewati gang yang penuh kafe dan restaurant Yunani, Italia dan Maroko.
Pelayan-pelayan restaurant yang berwajah rupawan dengan pakaian putih bersih
atau berjas memanggil para pejalan kaki untuk mampir ke restaurant mereka.
Hanya saja perut saya sudah saya isi dengan kebab yang saya beli di kedai kecil
milik orang Turki di dekat Mall. Grand Place sebenarnya tak terlalu berbeda
dengan Dam Square, di sini orang-orang berkumpul baik penduduk setempat
dan turis mengagumi gedung-gedung tua dengan arsitekturnya yang indah.
Kalau Perancis mempunyai Menara Eiffel, Italia terkenal
dengan Menara Pisa, maka Belgia mempunyai Atomium. Maka pada hari kedua sebelum
saya meninggalkan Brussel, saya memutuskan untuk pergi ke land mark Belgia ini.
Karena letaknya cukup jauh dari Hostel tempat saya menginap, saya harus naik
Metro Line 1 A yang berhenti di Stasiun Bis Heysel. Dibandingkan dengan dua
menara yang saya sebutkan tadi, Bangunan Atomium ini relative masih sangat
muda, karena baru dibangun tahun 1958 dan direnovasi tahun 2003 dan tidak
terlalu tinggi, dengan ketinggian dari permukaan tanah hingga bola tertinggi
mencapai 102 meter.. Sesuai dengan namanya, Atomium merupakan 9 bola logam
raksasa berdiameter 18 meter yang masing-masing dihubungkan / disangga dengan
logam. Tiap – tiap bola mempunyai fungsi tertentu, misalnya pada bola perama
selain tempat pengunjung membeli tiket masuk juga merupakan tempat pertunjukkan
permanen, pada saatitu dipamerkan mobil-mobil munggil dengan berbagai warna
cerah seperti permen. Pengunjung bisa mencapai bola tertinggi melalui lift
setelah membeli tiket masuk seharga 7 euro. Di bola tertinggi ini kita bisa
melihat pemandangan di bawah melalui layar yang mirip computer, atau kalau
ingin suasana romantis sambil mencicipi makanan khas Belgia, bisa mampir di
lantai teratas bola ini di “Restaurant Panorama”. Mau mengunjungi dan mengenal
lebih dekat Eropa dalam hitungan menit ? Tidak jauh dari Atomium terdapat obyek
wisata lainnya yang tidak kalah menarik, Miniatur Eropa. Di sini kita bisa
mengenal negara-negara di Eropa melalui miniatur landmark masing-masing negara.
Sayangnya saya harus merogoh dompet lagi untuk bisa melihat Eropa mini
tersebut.
http://
oceanebleue.multiply.com
|