Kyoto, Pusat Budaya Jepang |
|
Ditulis oleh andri kurniawan
|
|
Rabu, 01 Juli 2009 |
 KALAU ingin lihat pusat kebudayaan Jepang yang
sebenarnya, datanglah ke Kyoto. Kota ini sarat puluhan kuil cantik dan
monumen peninggalan Jepang.
Kyoto selalu indah sepanjang tahun, salju saat musim dingin,
mekarnya bunga Sakura di musim semi, bukit-bukit yang sejuk di musim
panas, dan pemandangan warna-warni daun musim gugur.
Kota
Kyoto bentuknya berbukit-bukit karena dikelilingi gunung-gunung di
empat penjuru angin. Kyoto semakin indah dengan Sungai Kamo di sebelah
timur dan Sungai Katsura yang meliuk-liuk di sebelah selatan.
Sebagai wilayah cagar budaya dan seni Jepang, bila sempat ke negeri
sakura ini, tak dimungkiri saya harus berkunjung ke Kyoto. Kota ini
letaknya mengarah ke selatan dari Tokyo.
Transportasi yang
saya pilih untuk menuju Kyoto adalah kendaraan modern yang canggih,
kereta supercepat Shinkansen. Biaya sekali perjalanan dari Tokyo ke
Kyoto sebesar 15.000 yen. Jarak tempuh dengan menggunakan Shinkansen
adalah 2 jam 15 menit.
Kereta ini bentuk dan kenyamanan
interiornya seperti pesawat terbang. Selama perjalanan, kecepatannya
stabil seolah-olah tidak menyentuh rel kereta di bawahnya.
Tepat pukul 07.00 pagi hari saya berangkat menuju Kyoto dari Central
Station Tokyo di pusat kota. Selama perjalanan, hanya sekali berhenti
di Stasiun Kereta Osaka. Ketepatan waktu menjadi ciri khas transportasi
supercepat ini.Di
Stasiun Kereta Kyoto waktu menunjukkan
tepat pukul 09.20. Stasiun Kereta Api Kyoto merupakan pusat
transportasi untuk seluruh kota. Stasiun ini merupakan stasiun kereta
api terbesar kedua di Jepang. Stasiun ini dilengkapi pusat perbelanjaan
(yang paling besar adalah ISETAN), hotel, bioskop, dan beberapa bagian
dari kantor pemerintahan lokal. Semuanya terletak di satu atap dalam
bangunan setinggi 15 lantai.
Saya selanjutnya naik taksi ke Mitsui Garden Hotel di tengah Kota Kyoto. Selepas check in
dan meninggalkan koper, saya langsung keluar mencari taksi untuk
mengunjungi kuil di kota ini yang terkenal cantik, luas, dan terkenal
akan sejarah kerajaan di Jepang.
Kuil pertama yang saya
kunjungi adalah pusat pemerintahan dan kebudayaan Jepang ketika Shogun
ke-1 berkuasa, Tokugawa, yaitu Istana Nijo. Kekuasaan Tokugawa berakhir
ketika memasuki Restorasi Meiji.
Harga tiket masuk ke Istana
Nijo sebesar 600 yen. Istana ini ditetapkan sebagai harta benda
nasional. Karena itu, bagi pengunjung, sangat ditekankan untuk menjaga
ketertiban agar tidak merusak peninggalan kebudayaan Jepang yang
dianggap sakral tersebut. Sebelum memasuki pintu utama, saya akan
menyeberang jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang sengaja
dibangun mengelilingi seluruh dinding Istana.
Luas istana ini
sangat besar karena halaman depannya saja sangat jauh untuk mencapai
bangunan utama istana. Di dalam bangunan utama istana, para pengunjung
tidak diperkenankan untuk mengambil foto ataupun gambar.
Di
dalam bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu, tampak kokoh dan
menunjukkan ciri khas dari kekuasaan dari para Shogun Jepang.
Patung-patung Shogun yang berkuasa juga berdiri tegak dengan baju
kebesarannya di beberapa ruangan yang menunjukkan aktivitas kaisar
ketika itu.
Kunjungan ke Istana Nijo yang demikian luas akan
menghabiskan waktu hingga sore hari di mana para pengunjung tidak
diperkenankan lagi untuk masuk.
Keesokan harinya saya
mengunjungi kuil unik lainnya di Kyoto yang terkenal dengan kuil
emasnya. Kuil itu dikenal dengan sebutan Kinkakuji. Kuil ini
dikelilingi seperti danau dan taman yang indah sekali sehingga terkesan
sangat sejuk ketika mengunjungi kuil yang konon memang dindingnya
terbuat dari emas.
Kuil Kinkakunji disebut juga Golden
Pavilion Temple dibangun pada tahun 1397 sebagai vila bagi seorang
shogun. Kuil ini terdiri atas tiga tingkat. Terdapat pulau dan
batu-batuan pada danau kecil yang mengelilinginya sebagai simbol
sejarah Buddha.
Keunikan kuil di tengah danau ini, setiap
lantainya dibuat dalam gaya arsitektur yang berbeda. Lantai dasar
disebut Ruang TirtaDharma (The Chamber of Dharma Water) yang
digambarkan sebagai gaya Shinden. Lantai pertama dalam bahasa Jepang
disebut Hosui-in yang sering digunakan sebagai ruang pertemuan,
bentuknya berupa ruangan luas dengan beranda di sekelilingnya.
Beranda itu berada di bawah naungan lantai kedua dan interiornya
dipisahkan oleh ventilasi tertutup yang disebut Shitomido. Shitomido
tersebut hanya mencapai separuh langit- langit sehingga cahaya dan
udara dapat bebas keluar masuk bangunan. Lantai kedua disebut Menara
Alunan Ombak (The Tower of Sound Waves) yang lazim ditemui
pada rumah-rumah bergaya Samurai. Ruangan ini sangat kental dengan
suasana Buddhis, yang menampilkan gaya Shoinzukuri.
|