Mesin Waktu ke "Tempoe Doeloe" |
|
Ditulis oleh andri kurniawan
|
|
Kamis, 02 Juli 2009 |
 SEBUAH petualangan menarik dan sarat sejarah di
antara perbukitan terjal di kaki Gunung Telomoyo dan Merbabu akan
mengantarkan pada dimensi waktu yang berbeda. Berdesain cantik
arsitektur Belanda mengantarkan perjalanan "tempoe doeloe".
Ketika menjejakkan kaki di pelataran Museum Kereta Api Ambarawa,
Jawa Tengah, waktu serasa berputar beratus-ratus tahun lampau. Sapuan
udara sejuk membuat perjalanan sepanjang 35 km dari Semarang-Yogyakarta
yang melelahkan luntur seketika.
Begitu sampai di depan
museum, jejak-jejak masa kolonial langsung menyapa. Dari segala sudut
bangunan yang dibangun zaman kolonial ini sama sekali tak mendapat
sentuhan kekinian. Lantai-lantai berwarna kuning kusam dan dinding
bangunan terasa lembap saat disentuh tangan. Meski usia sulit dilawan,
kegagahan museum ini tak akan pernah luntur ditelan zaman.
Gerigi lokomotif dan jam model kuno yang ada di depan museum sedikit
banyak menggambarkan betapa kokohnya museum ini melawan roda waktu.
Dibuat tahun 1873 atas prakarsa Raja Willem 1, gerigi lokomotif ini
masih mampu memancarkan kekuatannya. Sedangkan jam kuno yang terpasang
di dinding sisi atas stasiun masih berfungsi dengan baik.
Jam
ini akan mengajak pengunjung untuk terus berpetualang ke masa kejayaan
Willem I. "Sengaja dibiarkan sesuai aslinya karena wisatawan khususnya
dari luar negeri yang datang ke sini biasanya ingin bernostalgia," ujar
Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yossiady, BS.
Semakin
dalam kaki melangkah, semakin terasa decak kagum. Pijakan kaki terasa
nyaman karena dekorasi lantai yang membentuk pola. Hebatnya, walaupun
berusia ratusan tahun, lantai masih tetap kokoh tanpa cacat sedikit
pun.
Bak mengarungi waktu, berada di Museum Ambarawa tak
hanya cukup menikmati suasana depan. Kaki akan selalu tergoda untuk
melangkah jauh meneliti ruangan-ruangan tempat penyimpanan benda-benda
seperti mesin ketik merek Continental buatan Jerman 1921; Remington
buatan Amerika 1921 dan Monroe. Koleksi lain ada pula Mesin hitung,
yakni merek Burroughs-1923, merek Natio-1925, dan alat hitung
tradisional Tsem Poa.
Sayangnya, benda-benda antik tersebut
tampak tidak terawat dengan banyaknya debu dan berkarat. Mulai beranjak
keluar, tampak beberapa lokomotif (loko) berdiri gagah di sekitar
pelataran museum. Di museum ini terdapat 21 lokomotif uap bervariasi
dari ukuran serta tahun pembuatan pun beragam.
Loko paling
tua berusia 1991 mempunyai nomor koleksi C 1140. Loko buatan Jerman
berbahan kayu itu mempunyai panjang 8575 dan lebar 2450. Sementara itu,
loko terpanjang berukuran 18807 dengan lebar 2400 bernomor seri D 5106
buatan Jerman. Ke-21 loko tersebut sudah tidak beroperasi. Hanya satu
dari sekian lokomotif yang ada di museum ini masih terawat dengan baik,
yakni lokomotif yang hingga kini masih digunakan untuk keperluan wisata
secara komersial. Selebihnya, tampak terabaikan dan dibiarkan berkarat.
Untuk mengakomodasi pengunjung yang ingin melakukan perjalanan
wisata di atas kereta api tersedia loko berseri B 2503 dan B 2502 tahun
1902. Keunikan kereta api ini ada pada rel gerigi yang membuatnya mampu
berjalan di tanjakan.
Loko ini masih berfungsi dengan baik
dan menjanjikan pengalaman perjalanan seperti di masa-masa jayanya.
Berkapasitas 80 orang, loko ini akan membawa pengunjung berjalan dengan
kemiringan 30 derajat menuju Stasiun Bedono berjarak 9 km dan
berkapasitas 80 orang serta lama perjalanan selama satu jam.
|