You are here >
Mon 15 Mar 2010

Mesin Waktu ke "Tempoe Doeloe"

Ditulis oleh andri kurniawan   
Kamis, 02 Juli 2009
Image
SEBUAH petualangan menarik dan sarat sejarah di antara perbukitan terjal di kaki Gunung Telomoyo dan Merbabu akan mengantarkan pada dimensi waktu yang berbeda. Berdesain cantik arsitektur Belanda mengantarkan perjalanan "tempoe doeloe".
Ketika menjejakkan kaki di pelataran Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah, waktu serasa berputar beratus-ratus tahun lampau. Sapuan udara sejuk membuat perjalanan sepanjang 35 km dari Semarang-Yogyakarta yang melelahkan luntur seketika.

Begitu sampai di depan museum, jejak-jejak masa kolonial langsung menyapa. Dari segala sudut bangunan yang dibangun zaman kolonial ini sama sekali tak mendapat sentuhan kekinian. Lantai-lantai berwarna kuning kusam dan dinding bangunan terasa lembap saat disentuh tangan. Meski usia sulit dilawan, kegagahan museum ini tak akan pernah luntur ditelan zaman.

Gerigi lokomotif dan jam model kuno yang ada di depan museum sedikit banyak menggambarkan betapa kokohnya museum ini melawan roda waktu. Dibuat tahun 1873 atas prakarsa Raja Willem 1, gerigi lokomotif ini masih mampu memancarkan kekuatannya. Sedangkan jam kuno yang terpasang di dinding sisi atas stasiun masih berfungsi dengan baik.

Jam ini akan mengajak pengunjung untuk terus berpetualang ke masa kejayaan Willem I. "Sengaja dibiarkan sesuai aslinya karena wisatawan khususnya dari luar negeri yang datang ke sini biasanya ingin bernostalgia," ujar Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yossiady, BS.

Semakin dalam kaki melangkah, semakin terasa decak kagum. Pijakan kaki terasa nyaman karena dekorasi lantai yang membentuk pola. Hebatnya, walaupun berusia ratusan tahun, lantai masih tetap kokoh tanpa cacat sedikit pun.

Bak mengarungi waktu, berada di Museum Ambarawa tak hanya cukup menikmati suasana depan. Kaki akan selalu tergoda untuk melangkah jauh meneliti ruangan-ruangan tempat penyimpanan benda-benda seperti mesin ketik merek Continental buatan Jerman 1921; Remington buatan Amerika 1921 dan Monroe. Koleksi lain ada pula Mesin hitung, yakni merek Burroughs-1923, merek Natio-1925, dan alat hitung tradisional Tsem Poa.

Sayangnya, benda-benda antik tersebut tampak tidak terawat dengan banyaknya debu dan berkarat. Mulai beranjak keluar, tampak beberapa lokomotif (loko) berdiri gagah di sekitar pelataran museum. Di museum ini terdapat 21 lokomotif uap bervariasi dari ukuran serta tahun pembuatan pun beragam.

Loko paling tua berusia 1991 mempunyai nomor koleksi C 1140. Loko buatan Jerman berbahan kayu itu mempunyai panjang 8575 dan lebar 2450. Sementara itu, loko terpanjang berukuran 18807 dengan lebar 2400 bernomor seri D 5106 buatan Jerman. Ke-21 loko tersebut sudah tidak beroperasi. Hanya satu dari sekian lokomotif yang ada di museum ini masih terawat dengan baik, yakni lokomotif yang hingga kini masih digunakan untuk keperluan wisata secara komersial. Selebihnya, tampak terabaikan dan dibiarkan berkarat.

Untuk mengakomodasi pengunjung yang ingin melakukan perjalanan wisata di atas kereta api tersedia loko berseri B 2503 dan B 2502 tahun 1902. Keunikan kereta api ini ada pada rel gerigi yang membuatnya mampu berjalan di tanjakan.

Loko ini masih berfungsi dengan baik dan menjanjikan pengalaman perjalanan seperti di masa-masa jayanya. Berkapasitas 80 orang, loko ini akan membawa pengunjung berjalan dengan kemiringan 30 derajat menuju Stasiun Bedono berjarak 9 km dan berkapasitas 80 orang serta lama perjalanan selama satu jam.
Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement