You are here >
Fri 03 Sep 2010

Menumpang Ombak Berkelit dari Karang

Ditulis oleh andri kurniawan   
Jumat, 03 Juli 2009
Image
KEINDAHAN Tanah Lot lahir dari perpaduan ganasnya ombak pantai selatan dengan aura bersahaja Pura Luhur Tanah Lot.
Pertemuan kedua titik ekstrem itu (keganasan- kebersahajaan, red), melahirkan permainan laut yang menantang pula, ekstrem surfing.

Bila dari arah Tanah Lot, pengunjung diharuskan mengayunkan kaki menuju arah barat untuk mencapai lokasi ekstrem surfing, tepatnya di Pantai Batu Bolong ini. Tidak jauh memang, sekitar dua puluh meter dari Pura Tanah Lot. Jalanan ke lokasi pun tidak sulit, menggunakan paving. Meski demikian, pejalan kaki harus memeras sedikit energi. Maklum, jalan sedikit menanjak.

Setelah lima menit berjalan, tepian tebing akan menyambut. Di seberangnya, terpapar tebing lain yang berlubang bagian tengahnya. Batu Bolong begitu orang menyebut tebing tersebut. Uniknya, di dekat Batu Bolong terdapat pantai berpasir hitam. Pemandangan ini menarik sebab di sekitar Batu Bolong, pantai tersusun dari batu karang.

Pantai berpasir hitam ini bisa dicapai dengan menuruni anak tangga, sekitar seratus anak tangga. Saat turun, pengunjung harus ekstra hati-hati, sebab kemiringan tangga hampir sembilan puluh derajat, tanpa pegangan di kiri-kanan tangga pula.

Selepas anak tangga terakhir, terdapat pantai berpasir hitam, inilah lokasi permainan ekstrem surfing. Disebut ekstrem sebab, surfer harus menghadapi dua tantangan sekaligus, ombak dan karang di bawah permukaan air. Tantangan ini melahirkan joke, hanya surfer bernyali yang mencoba selancar di Pantai Batu Bolong.

"Karena jarang surfer yang berani main, ada kebanggaan tersendiri bagi yang pernah bermain di sana," ujar I Made Arinata, 29, surfer di pantai itu.

Surfer yang dijuluki penakluk Batu Bolong ini mengatakan, bermain selancar di Pantai Batu Bolong berbeda dengan pantai lainnya. Karena pantai memiliki karang, surferharus mencari ombak agak ke tengah laut.

Sesaat setelah mendapat ombak, kaki kiri harus segera dijejakkan di papan seluncur. Setelah itu, peselancar harus mengikuti ombak, menjaga keseimbangan supaya tidak tergulung ombak.

Peselancar yang tidak bisa menjaga keseimbangan, tergulung ombak, harus bersiap mencium karang di bawah permukaan air. "Itulah tantangannya, menaklukkan ombak sekaligus menjaga agar tidak mencium karang," imbuh Arinata.

Dekat dengan nyawa, imbuh pria yang bekerja sebagai life guard, menggambarkan tantangan surfing di Pantai Batu Bolong. Dia sendiri sudah merasakan, satu kali engsel lututnya keluar akibat terempas ombak dan membentur papan selancar. Bekas luka-luka di lututnya turut menegaskan ganasnya ombak Batu Bolong.

Penggemar surfing bisa mendapatkan ombak yang lebih ramah di sekitar Kawasan Tanah Lot. Salah satunya di Pantai Nyanyi, berjarak sekitar lima kilometer dari Tanah Lot, sejalur dengan jalan menuju Denpasar. Nyanyi bisa dicapai dengan mobil maupun motor.

Masih satu garis pantai dengan Pantai Batu Bolong, Nyanyi menawarkan ombak bagus tanpa karang. Meski pantai tersebut juga berpasir hitam. "Di sana lebih aman, tidak ada karang. Sebab itu, bila tidak berani di Batu Bolong, mainnya di Nyanyi," ujar pemuda Tanah Lot pehobi surfing pula, Wayan Tirtayasa, 19.

Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diketahui peminat surfing.

Memiliki keinginan mencoba, dan papan selancar tentunya. Selain itu, bila surfing di pantai berkarang, peselancar dilarang terlalu dekat dengan pantai.

Pantang bagi surfer mencari ombak kecil di pantai berkarang. Sebab, ombak besar lebih aman, menjaga surfer di atas air, jauh dari karang. Kalaupun jatuh, jarak permukaan air dengan karang cukup menahan beban surfer.
Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >