Melarung Dosa di Tirta Suci |
|
Ditulis oleh andri kurniawan
|
|
Jumat, 03 Juli 2009 |
 PURA di atas batu karang menyuguhkan keindahan
alami yang sakral di Tanah Lot. Pun air suci yang mengalir di bawah gua
karang, pesonanyamenarik banyak wisatawan.
Sumber mata air yang mengalir bening juga menjadi daya tarik yang
menyejukkan. Tak jarang wisatawan sekadar datang untuk mengambil air
yang disucikan oleh masyarakat setempat.
Sumber mata air itu
berlokasi di dalam gua, tepatnya di bawah karang penyangga Pura Luhur
Tanah Lot. Sumber air keluar dari sebelas lubang di dalam gua. Uniknya,
meski dikelilingi laut, air yang keluar terasa tawar.
Air
suci yang lebih tepat disebut tirta oleh masyarakat sekitar dan
penganut agama Hindu ini diyakini bisa menyucikan diri mereka dari
berbagai perbuatan buruk. "Karenanya, kesakralan air suci ini
disejajarkan dengan kesucian pura," kata juru bicara Wisata Tanah Lot,
Wayan Suneja.
Untuk mencapainya, pengunjung harus menunggu
air laut surut. Pengunjung yang hendak memasuki gua suci untuk
mendapatkan tirta, harus mengikuti aturan layaknya memasuki pura. Satu
contoh, perempuan yang sedang menstruasi tidak boleh memasuki area ini.
Demikian halnya laki-laki yang merasa dirinya tidak dalam keadaan suci.
Begitu berhasil menyeberang, dua orang pemangku (tokoh) adat
akan memberi beberapa butir beras untuk dipasang di kening serta bunga
kamboja yang diselipkan di sela kuping. Setelah pemangku mempersiapkan
diri dengan beberapa ritual, barulah air suci itu dicipratkan kepada
pengunjung yang hendak menyucikan diri.
"Kalobagi umat Hindu,
air ini hanya dipercaya untuk menyucikan diri. Namun, ada juga yang
mengatakan, air ini dipercaya bisa mengabulkan semua keinginan orang
yang mendapatkannya," ujar I Gusti Ngurah Arya, salah satu guide objek wisata Tanah Lot.
Arya mengaku, banyak di antara pengunjung yang setelah sekian lama
tidak berkunjung, mereka kembali dengan membawa sesaji sebagai ungkapan
terima kasih, karena keinginannya tercapai. Bahkan, untuk menyembuhkan
berbagai penyakit sekalipun, beberapa pengunjung sudah banyak yang
membuktikannya.
Manajer objek wisata Tanah Lot, Made Sujana
juga membenarkan banyaknya pengunjung yang tertarik dengan keberadaan
tirta suci itu. Meski sampai saat ini menyatakan belum pernah bisa
membuktikannya secara ilmiah. Mengenai kemujaraban air suci itu, ia
dapatkan pula dari komentar pengunjung.
"Pernah dulu ada
orang Brebes, Jateng, yang kembali lagi ke sini dengan membawa hasil
panen bawang merah mereka. Karena tirta ini dipercaya menyembuhkan
penyakit pertanian bawang mereka," kata Sujana.
Sujana
menambahkan, baginya memang mungkin saja hal itu semua terjadi. Karena
keyakinan penuh terhadap kesucian air suci itu, bisa secara tidak
langsung berdampak atas berbagai hambatan si pemohon. "Hambatan itu kan
bisa penyakit, bisa keinginan tidak juga tercapai dan lain-lain,"
sambungnya.
Pernyataan itu diamini Ainurrafiq, salah satu
pengunjung yang berasal dari salah satu SMA di Surabaya, Jatim. Ia
mengaku penasaran dengan mitos yang diterimanya dari pengunjung yang
lain. "Saya cuma pingin tahu saja, sekalian saya juga berdoa hasil
ujian saya bagus," ungkap siswa kelas tiga MAN (madrasah aliyah) itu.
Selain Tirta, area suci di Pura Tanah Lot juga memancar di gua ular
suci. Penduduk sekitar menganggap ular laut berbisa itu sebagai penjaga
kesucian pura. Ular itu mereka anggap penjelmaan dari selendang
Danghiang Nirarta, salah satu tentara kerajaan Majapahit yang
mendirikan pura luhur Tanah Lot.
Nyoman Sudiana, salah satu
penjaga Holy Snake itu menyatakan, jumlah ular-ular yang berada di gua
itu tidak menentu. Bahkan, jika upacara adat di pura sedang
berlangsung, ular-ular itu nyaris tidak ada yang menampakkan diri.
"Kalau kepercayaan orang-orang sini, ular itu sama-sama menjaga pura,"
kata Sudiana.
|