Berburu Jajanan di Stadion Brawijaya |
|
Ditulis oleh andri kurniawan
|
|
Selasa, 07 Juli 2009 |
 Kerepotan membawa dua putri kesayangannya tak menyurutkan semangat
Eriza untuk menikmati jajanan khas kesukaannya. "Saya dari Sidoarjo,
datang ke sini berburu soto medan," ujarnya.
Diantar sang suami, Eriza, bersama keluarganya menempuh jarak
sekitar 30 km menuju pusat kota Surabaya, lokasi Festival Jajanan Bango
(FJB) 2008 digelar. Mereka memuaskan kegemarannya terhadap hidangan
khas daerah asal Eriza.
"Mumpung di sini lengkap jajanannya, sekalian jalan-jalan," kata Eriza.
Hal
sama dilakukan Ibu Darmaji, bersama putri dan menantunya, mereka
menempuh perjalanan dari Gresik ke lapangan yang berlokasi di Jalan
Hayam Wuruk Surabaya. "Diajak anak saya jalan-jalan ke sini, kebetulan
kami suka mencicipi makanan dari berbagai daerah," ujar ibu yang
mengaku telah memasuki usia pensiun itu.
Pernyataan Eriza dan
Ibu Darmaji sejalan dengan warga kota lainnya. Tak heran bila sejak
acara dibuka pukul 10.00 waktu setempat, mereka berduyun-duyun
mendatangi tenda-tenda yang menyajikan ragam kuliner nusantara.
Untunglah terik matahari yang panas saat pembukaan segera berganti
teduh dengan angin sepoi-sepoi.
Makin sore, pengunjung yang
makin banyak tampak bersantap dan bercanda ria di meja makan yang
disediakan di tengah lapangan. Penyelenggaraan kali ini merupakan kali
keempat sejak penyelenggaraan pertama pada 2005. Kota Surabaya menjadi
pembuka sebelum acara yang sama digelar di Bandung dan Jakarta.
Deretan
warung berupa tenda putih, menyajikan hidangan sesuai dengan tema
pilihan FJB kali ini, yakni 80 makanan tradisional khas dari kota
setempat. "Serba 80 menjadi tema FJB kali ini berkaitan dengan ulang
tahun Kecap Bango yang ke-80," sebut Manajer Merek Bango Memoria Dwi
Prasita, yang akrab disapa Memor.
Hidangan pun bertambah lengkap
dengan kehadiran 8 Duta Bango dari luar kota. Para Duta Bango yang ikut
serta antara lain Ketoprak Ciragil mewakili Jakarta, Nasi Bug Trunojoyo
mewakili Malang, sajian Gudeg dari RM Adem Ayem mewakili Yogyakarta,
Tengkleng Bu Edi mewakili Surakarta (Solo), Kupat Tahu Gempol mewakili
Bandung, Soto Udang racikan RM Rinaldy mewakili Medan, Tutug Oncom
olahan Saung Kiray mewakili Bogor, Coto Daeng Muchtar khas Makassar,
dan Rawon Dengkul Nguling terpilih sebagai Duta Bango yang mewakili
Surabaya.
Kota Surabaya sebagai pilihan pertama penyelenggaraan
FJB 2008 adalah tepat. Selain sedang merayakan HUT ke-715 Kota
Surabaya, 31 Mei 2008, kota yang dikenal dengan rujak cingur dan
petisnya itu juga sedang gencar mengangkat wisata kuliner sebagai
tujuan wisata untuk menyedot devisa.
"Kami berharap event ini
akan menjadi agenda tetap yang dapat dijual kepada wisatawan
mancanegara," kata Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Surabaya
Yusak Anshori.
Berkunjung ke Surabaya memang tidak mantap jika
belum mencicipi hidangan mereka. Kota pahlawan ini menyimpan ragam
kuliner yang selalu menjadi bahan buruan ketika berkunjung.
Menu-menu
seperti rujak cingur, lontong balap, pecel semanggi, sop kikil, dan
kupang lontong menjadi andalan. Tak lupa bandeng asap dan kerupuk
sidoarjo, selalu menjadi tentengan pas untuk buah tangan. Semua menu
unggulan itu, Sabtu 10 Mei lalu, terkumpul di Stadion Brawijaya.
"Tak
perlu repot ke tempat masing-masing, cukup datang ke satu tempat, Anda
dapat mencicipi semua hidangan kegemaran Anda," ujar Yusak.
Kegiatan
tersebut sejalan dengan semboyan para pencinta kuliner yang tergabung
dalam Komunitas Bango Mania, ya jajan, ya makan, ya jalan- jalan.
|