You are here >Home arrow Jalan-Jalan arrow Domestik arrow Sambutan Agresif di Pulau Samosir
Mon 15 Mar 2010

Sambutan Agresif di Pulau Samosir

Ditulis oleh andri kurniawan   
Senin, 06 Juli 2009
Image
TOBA dan Samosir seperti satu paket tak terpisahkan. Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Danau Toba tanpa melanjutkan perjalanan ke Pulau Samosir yang terletak di tengah danau tersebut.
Seorang wisatawan membutuhkan waktu sekira 45 menit perjalanan dari Dermaga Ajibata, Parapat untuk sampai di Tomok, Samosir. Waktu 45 menit yang ditempuh dengan Kapal Feri wisata itu dapat dipersingkat menjadi hanya 10 menit jika menyeberang Toba dengan speed boat. Sedangkan Parapat sendiri berjarak sekira empat jam perjalanan darat dari kota Medan, Sumatra Utara.

Okezone pun berkesempatan mengunjungi Pulau Samosir mengiringi rombongan safari dakwah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tengah melepas penat, usai melakukan serangkaian kunjungan di Aceh. Rombongan berangkat sekira pukul 08.30 WIB dari dermaga di Parapat, setelah semalam menginap di wisma bekas pengasingan Bung Karno.

Namun, 45 menit rupanya tidak cukup bagi rombongan tiba di Samosir. Rombongan baru tiba di Tomok, Samosir setelah melakukan perjalanan air selama 1,5 jam atau dua kali lipat dari waktu tempuh sewajarnya. "Karena kita tadi berputar-putar dulu menikmati pemandangan berkeliling Danau Toba," ujar nahkoda kapal Bernatal Sirait.

Alangkah terkejutnya para rombongan begitu menginjakkan kaki di pulau yang konon diyakini sebagai pulau asal masyarakat Batak itu. Belum juga sempat menikmati pemandangan alam yang ada, puluhan pedagang souvenir sudah menyemut mencoba menawarkan barang dagangannya dengan agresif.

"Gantungan kuncinya bang, kaosnya juga, atau ulos untuk oleh-oleh," teriak para pedagang sambil terus membuntuti langkah para wisatawan yang memasuki Samosir. Bahkan okezone pun sempat ditarik-tarik dan dipaksa membeli gantungan kunci.

Beruntung aksi mereka tak terus berlanjut saat rombongan semakin jauh melangkahkan kaki memasuki lebih dalam pulau nan cantik itu. Rombongan pun langsung menuju kompleks pemakaman tua Raja Sidabutar yang dijadikan objek wisata budaya pulau tersebut.

Setibanya di kompleks makam batu yang dianggap suci itu, masing-masing pengunjung kemudian dipakaikan ulos, kain selendang khas Batak, yang disewakan gratis di areal tersebut. Seorang pemandu wisata pun dengan gamblangnya berceloteh tentang sejarah Raja Sidabutar.
Comments
Search RSS
alvatarz  - kebenaran sejarah   |2009-07-10 18:06:38
Saya sangat sedih Namun yang paling sedih adalah opung-opung yang dari Batu
Hobon. kira2 sudah 4 bulan tulisan saya dengan Judul KEBENARAN BATU HOBON,
PERNYATAAN NYI RORO KIDUL DAN ORANG-ORANG NINIWE namun tak satupun marga-marga
poporan dari batu Hobon yang peduli.

Mengapa???????????????
Apakah Iblis
benar-benar sudah menguasai kamu semua????????????????
Kamu Bangga dengan
Leluhur kamu yang terkenal sakti mandraguna tapi tak peduli kalau makamnya
dirusak orang??????????
Ya.. memang marga-marga sebagian besar naimarata
pasaribu, limbong, sitorus dlll yang merusak dan mencuri di Batu hobon.

Saya
seorang pemuda asli Batak yang bukan marga tersebut sangat peduli, mengapa kamu
semua tidak peduli???

Tugas Saya menyatakan kebenaran dan menyadarkan manusia
dari penyembahan berhala, baik melalui roh-roh leluhur ataupun Roh-Roh
Kudus.
Bukankah TUHAN YESUS tegas melarang hal tersebut. kalau kebenaran sudah
diungkap, terserah manus...
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Advertisement