Sambutan Agresif di Pulau Samosir |
|
Ditulis oleh andri kurniawan
|
|
Senin, 06 Juli 2009 |
 TOBA dan Samosir seperti satu paket tak terpisahkan. Tidak lengkap
rasanya berkunjung ke Danau Toba tanpa melanjutkan perjalanan ke Pulau
Samosir yang terletak di tengah danau tersebut.
Seorang wisatawan membutuhkan waktu sekira 45 menit perjalanan dari
Dermaga Ajibata, Parapat untuk sampai di Tomok, Samosir. Waktu 45 menit
yang ditempuh dengan Kapal Feri wisata itu dapat dipersingkat menjadi
hanya 10 menit jika menyeberang Toba dengan speed boat. Sedangkan
Parapat sendiri berjarak sekira empat jam perjalanan darat dari kota
Medan, Sumatra Utara.
Okezone pun berkesempatan mengunjungi
Pulau Samosir mengiringi rombongan safari dakwah Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) yang tengah melepas penat, usai melakukan serangkaian
kunjungan di Aceh. Rombongan berangkat sekira pukul 08.30 WIB dari
dermaga di Parapat, setelah semalam menginap di wisma bekas pengasingan
Bung Karno.
Namun, 45 menit rupanya tidak cukup bagi rombongan
tiba di Samosir. Rombongan baru tiba di Tomok, Samosir setelah
melakukan perjalanan air selama 1,5 jam atau dua kali lipat dari waktu
tempuh sewajarnya. "Karena kita tadi berputar-putar dulu menikmati
pemandangan berkeliling Danau Toba," ujar nahkoda kapal Bernatal Sirait.
Alangkah
terkejutnya para rombongan begitu menginjakkan kaki di pulau yang konon
diyakini sebagai pulau asal masyarakat Batak itu. Belum juga sempat
menikmati pemandangan alam yang ada, puluhan pedagang souvenir sudah
menyemut mencoba menawarkan barang dagangannya dengan agresif.
"Gantungan
kuncinya bang, kaosnya juga, atau ulos untuk oleh-oleh," teriak para
pedagang sambil terus membuntuti langkah para wisatawan yang memasuki
Samosir. Bahkan okezone pun sempat ditarik-tarik dan dipaksa membeli
gantungan kunci.
Beruntung aksi mereka tak terus berlanjut saat
rombongan semakin jauh melangkahkan kaki memasuki lebih dalam pulau nan
cantik itu. Rombongan pun langsung menuju kompleks pemakaman tua Raja
Sidabutar yang dijadikan objek wisata budaya pulau tersebut.
Setibanya
di kompleks makam batu yang dianggap suci itu, masing-masing pengunjung
kemudian dipakaikan ulos, kain selendang khas Batak, yang disewakan
gratis di areal tersebut. Seorang pemandu wisata pun dengan gamblangnya
berceloteh tentang sejarah Raja Sidabutar.
|