Menyusuri Jejak Awal di Wuppertal |
|
Ditulis oleh andri kurniawan
|
|
Selasa, 07 Juli 2009 |
JIKA Anda berkesempatan bepergian ke Jerman, luangkan waktu sejenak
untuk mengunjungi kota yang merupakan cikal bakal zaman industri, yaitu
Wuppertal.
Berada di kota ini seolah ikut merasakan bagaimana kehidupan masa
awal perkembangan industri di masa lalu. Wuppertal merupakan kota
pegunungan. Sejauh mata memandang akan terlihat bukit-bukit, pepohonan,
dan jalan berliku-liku. Perlu stamina yang benar-benar fit untuk
berjalan dari suatu tempat ke tempat lain karena dapat dipastikan Anda
tidak hanya akan melewati jalan rata, juga akan menjumpai tanjakan atau
turunan. Seperti saat saya akan menuju ke universitas.
Dari
penginapan, saya harus melalui kurang lebih 90 anak tangga, jalan ini
cukup pendek tapi melelahkan, ada jalan yang lebih landai, tapi
jalannya memutar, dan perjalanan akan memakan waktu lebih lama.
Pemandangan
kota berbukit lebih indah dibanding dengan kota bertopografi datar
karena dengan wilayah yang berbukit-bukit kita dapat melihat
pemandangan yang lebih bervariasi tergantung dari sudut pandang yang
kita peroleh. Hanya, untuk memperoleh pemandangan indah tersebut sering
kali kita harus berusaha keras untuk menaiki puluhan anak tangga karena
tidak semua bisa dicapai dengan kendaraan bermotor.
Kota
Wuppertal menyimpan keindahan tersembunyi yang menanti untuk kita
temukan. Keindahan Kota Wuppertal terpancar terutama pada saat musim
salju dan pada waktu malam hari di mana terdapat banyak kelap-kelip
lampu. Wilayah Wuppertal terletak pada ketinggian 100 hingga 350 meter
di atas permukaan air laut, perbedaan ketinggian yang besar ini selain
dihubungkan dengan jalan kendaraan bermotor juga dihubungkan dengan
anak tangga.
Terdapat berbagai variasi anak tangga, mulai yang terjal sampai landai. Inilah salah satu hal yang unik dari kota ini.
Magnet bagi Usahawan
Sejak
abad pertengahan, Wuppertal merupakan lokasi pabrik pemutih. Meskipun
sudah sejak abad pertengahan Kota Wuppertal merupakan tempat industri.
Sampai pada abad ke-15, Wuppertal berkembang dengan lamban, tetapi
setelah pengadilan memutuskan untuk mengampuni bangsawan Johann III
karena tindakan monopolinya, maka secara perlahan tapi pasti Wuppertal
beranjak menjadi pusat ekonomi.
Wuppertal seolah-olah mempunyai
magnet yang menarik bagi para usahawan untuk menanamkan modalnya di
sana. Rupanya pada saat itu para pengusaha melihat wilayah Wuppertal
merupakan kota yang menjanjikan. Mulailah wilayah ini dipertimbangkan
sebagai lokasi pabrik.
Pada abad ke-17 kota ini semakin ramai
oleh berbagai macam pabrik. Salah satunya adalah pabrik bahan-bahan
kimia dan pabrik pewarna. Mayoritas pabrik didirikan di sekitar Sungai
Wupper karena limbah pabrik dapat dengan mudah dialirkan ke sungai.
Limbah yang dibuang merupakan limbah yang belum diolah sehingga limbah
ini mencemari lingkungan.
Sarana dan prasarana kota berkembang
sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Dengan berdirinya banyak pabrik,
maka diperlukan banyak tenaga kerja pula. Pekerja pabrik datang dari
berbagai penjuru Kota Wuppertal. Untuk mengatasi mobilitas yang tinggi
ini diperlukan alat transportasi baru yang dapat melayani mereka dengan
cepat. Kota yang dikelola kurang tepat akan memberikan dampak buruk
terhadap penduduknya. Pemerintah mengerti benar tentang permasalahan
yang dihadapi oleh Kota Wuppertal, satu per satu permasalahan dicarikan
solusinya.
Sekitar tahun 1900-an pemerintah memutuskan untuk
membangun sebuah alat transportasi yang sesuai dengan keadaan kota dan
kebutuhan masyarakat Wuppertal. Berdasarkan pertimbangan wilayah
topografi yang berbukit-bukit, dan ketersediaan lahan yang sempit, maka
diputuskan untuk menggunakan monorel Schwebebahn, alat transportasi
massal yang menggantung di udara.
Schwebebahn dibangun oleh
seorang insinyur dari Cologne yaitu Carl Eugen Langen. Dia sangat
memahami kebutuhan transportasi Kota Wuppertal saat itu karena selain
seorang pengusaha, juga seorang insinyur sipil. Maka dibangunlah
transportasi kereta gantung dengan sistem double track.
Pembangunan
transportasi ini mulai dilaksanakan pada 1898. Pada 1901 kereta ini
siap digunakan untuk umum. Namun, monorel Schwebebahn benar-benar
menjadi angkutan massal sepenuhnya pada 1903. Schwebebahn melayani
jarak sepanjang 13,3 km. Kereta ini akan berhenti di halte setiap
kurang lebih 700 meter. Pada awalnya halte Schwebebahn ini menyerupai
halte rumah tradisional kota Wuppertal.
Schwebebahn merupakan
transportasi unik yang menjadi kebanggaan sejak berdirinya sampai
sekarang. Merupakan salah satu atraksi unik dari kota ini. Dengan naik
Schwebebahn sebenarnya kita telah melihat sebagian besar Kota Wuppertal
secara sekilas. Kini Schwebebahn telah berumur lebih dari 100 tahun.
Secara rutin, dinas transportasi pemerintah merawat rel gantung beserta
keretanya. Telah direncanakan juga untuk mengganti rel yang telah lapuk
termakan usia secara bertahap.
Sampai berapakah umur
transportasi ini? Pemerintah dan masyarakat Wuppertal tentunya akan
mempertahankannya selama masih layak pakai karena transportasi ini
telah menjadi lambang Kota Wuppertal.
|