You are here >Home
Jalan-Jalan
Domestik
Mengemas Pusaka Agar Layak Jual
Jalan-Jalan
Domestik
Mengemas Pusaka Agar Layak Jual
Wed
22
May 2013
Mengemas Pusaka Agar Layak Jual |
| Ditulis oleh andri kurniawan | ||||||
| Minggu, 02 Agustus 2009 | ||||||
KEMASAN. Kata ini menjadi kekuatan bagi sebuah produk,
apapun itu. Sebutir permen yang segera lumer di lidah dengan rasa mint
yang biasa-biasa saja bisa jadi luar biasa bagi konsumen hanya karena
kemasan yang dibikin sebagus mungkin, lengkap dengan riset dan studi
psikologi konsumen. Tentu saja, ditambah embel-embel, misalnya, jika
terkait permen, ditambahkan kalimat "aman untuk penderita diabetes"
atau singkatnya "tanpa gula", "bebas gula", dll.
Dari kemasan itu, bisa jadi, orang yang tidak niat membeli permen,
menjadi terpaksa memungut kotak permen tadi bukan sekadar karena bebas
gula tapi boleh jadi karena bentuk tempat si permen. Jadi dari hanya
sekadar menengok, calon konsumen kemudian mulai memegang, untuk
kemudian di akhir batas waktu, ia memutuskan untuk membeli karena
tertarik dengan kemasannya.Perumpamaan tadi tak hanya berlaku bagi sebotol, sekaleng, sekotak permen mint. Perkara kemasan menjadi perkara semua jenis produk yang akan dipasarkan, tentu saja termasuk pusaka baik bendawi maupun non benda. Setelah melihat beberapa kekayaan aset PT Kereta Api (PT KA) di sebagian Jawa saja - khususnya aset yang secara sengaja diupayakan untuk dipertahankan - sudah bisa langsung terdeteksi masalahnya, kemasan. Kemasan kemudian promosi barangkali tak pernah terlintas di dalam program mereka. Padahal, katakan saja Museum Kereta Api Ambarawa beserta beberapa stasiun tua yang membentang di jalur Jawa Tengah, Stasiun Tuntang, Stasiun Bedono, Stasiun Kedungjati, dll sudah siap secara materi. Pemugaran di satu stasiun atau di museum kereta api tak lantas hanya bicara pemugaran tapi bicara bagaimana gedung-gedung ini kemudian bisa digunakan kembali dengan tambahan berbagai atraksi khas kawasan tersebut. Misalnya, restoran atau kafe atau apapun bentuk dan namanya tapi fungsinya adalah untuk rehat sejenak, makan minum khas daerah setempat termasuk sejarah singkat kawasan dan stasiun tersebut. Foto-foto lama tentu akan menambah pesona. Selain itu tentu akan lebih baik jika ada atraksi budaya menyambut kedatangan turis yang datang. Aktivitas tentu perlu dipikirkan dalam satu kemasan. Stasiun dan jalur tua kereta api tentu tak bisa dipisahkan dari masyarakat sekitar dengan kebiasaan mereka, maka jangan pernah menafikkan keberadaan mereka. Tentu ini sebuah pekerjaan lintas bidang dan wilayah, perlu dana dan waktu yang tak sedikit. Pendataan awal demi riset selanjutnya tak bisa berhenti menjadi sekadar wacana. Sawah Lunto, tampaknya bisa jadi contoh bagaimana pemerintah kotanya tak hanya sekadar bicara tapi juga cepat bertindak. Demikian pula Solo yang kembali menghidupkan kereta uap di jalan utama kota itu dan dengan berani menganggarkan dana miliaran rupiah. Warta Kota pernah menulis tentang bagaimana sebuah kota mungil nun di ujung perbatasan Belanda, Belgia, dan Jerman memungut euro dari turis baik lokal maupun mancanegara dari wisata kereta di jalur kuno menggunakan kereta wisata yang ditarik lok uap tua. Bukan karena pemandangan yang membuat turis-turis itu berdatangan, tapi lebih karena kemasan dengan promosi yang memadai. Bicara soal lukisan alam di Maastricht, kota tersebut, tentu tak sebanding dengan panorama di sepanjang Ambarawa-Bedono atau Ambarawa- Tuntang, misalnya. Belanda yang datar hanya punya Maastricht yang sedikit berbeda, karena kota tempat lahirnya Uni Eropa 1992 itu sedikit berbukit. Sementara Ambarawa-Bedono, Ambarawa-Tuntang menyuguhkan panorama khas negeri agraris, gunung, sawah berundak, dll. Apalagi dalam perjalanan ke Tuntang, dengan lori, penumpang akan dijamu pemandangan Rawa Pening berlatar Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Bicara soal kereta wisata di jalur kuno dengan lok tua, Indonesia bisa berbangga, tapi tak demikian dengan kondisi Museum Kereta Api Ambarawa. Tempat itu barangkali masih jauh dari harapan orang untuk sebuah kata museum dan tentu tak adil memadankan dengan Spoorwegmuseum Utrecht. Sekali lagi, kemasan dan segala hal terkait promosi memang butuh tekad, niat, dan keberanian untuk menumpahkan anggaran demi menjual produk berupa pusaka. Tak hanya dari PT KA tapi juga dari wilayah terkait. Persoalan ini tentu tak hanya milik PT KA dan wilayah terkait yang dilalui jalur tua kereta api dan stasiun tua, tapi secara keseluruhan adalah milik banyak kota di negeri ini yang tak pernah belajar dari sekotak permen yang kemasannya begitu menggoda sehingga memaksa kita merogoh uang dari kocek.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
KEMASAN. Kata ini menjadi kekuatan bagi sebuah produk,
apapun itu. Sebutir permen yang segera lumer di lidah dengan rasa mint
yang biasa-biasa saja bisa jadi luar biasa bagi konsumen hanya karena
kemasan yang dibikin sebagus mungkin, lengkap dengan riset dan studi
psikologi konsumen. Tentu saja, ditambah embel-embel, misalnya, jika
terkait permen, ditambahkan kalimat "aman untuk penderita diabetes"
atau singkatnya "tanpa gula", "bebas gula", dll.
Dari kemasan itu, bisa jadi, orang yang tidak niat membeli permen,
menjadi terpaksa memungut kotak permen tadi bukan sekadar karena bebas
gula tapi boleh jadi karena bentuk tempat si permen. Jadi dari hanya
sekadar menengok, calon konsumen kemudian mulai memegang, untuk
kemudian di akhir batas waktu, ia memutuskan untuk membeli karena
tertarik dengan kemasannya.