You are here >Home arrow Jalan-Jalan arrow Domestik arrow Halo - Halo Bandung
Thu 11 Mar 2010

Halo - Halo Bandung

Ditulis oleh arief   
Senin, 18 Januari 2010
Pada era tahun 1920-an, tanda panggil atau ”call sign” ”hallo Bandoeng” sangat populer di kalangan kolonial Hindia Belanda yang bermukim di utara Cekungan Bandung.

Tanda panggil itu pertama kali diudarakan melalui siaran Radio Malabar yang berada di kawasan Gunung Puntang, di wilayah Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung.

Setelah hampir sembilan dasawarsa berlalu, kenangan akan tanda panggil itu muncul kembali dalam benak peserta Jajal Geotrek Wisata Bumi Cekungan Bandung yang diselenggarakan Penerbit Truedee pada Sabtu (26/12/2009).

Peserta wisata sejarah berjumlah 50 orang diajak kembali menelusuri sisa-sisa kebesaran Radio Malabar yang hancur dibombardir Jepang pada tahun 1942.

Kini, lokasi bekas stasiun radio itu termasuk di dalam kawasan Wisata Gunung Puntang. Untuk mencapainya, peserta harus melintasi jalan berliku dan menanjak sekitar satu kilometer dari pintu masuk kawasan wisata. Kawasan wisata itu sendiri berada sekitar 35 kilometer dari Kota Bandung.

Jalanan menuju lokasi bekas kompleks Radio Malabar tersebut kondisinya rusak berat dan sempit. Pengendara harus berhati-hati ketika melintasi jalan tersebut sebab di sebelah kiri jalan adalah jurang terjal sementara di sebelah kanan berdiri tegakan pinus milik Perum Perhutani.

Lokasi bekas Radio Malabar antara lain ditandai dengan sisa-sisa reruntuhan bangunan yang menyebar di berbagai tempat. Sebelum memasuki pintu masuk kompleks inti, peserta disuguhi bekas perumahan karyawan radio berupa fondasi yang sudah hancur. Pada beberapa bagian bangunan dipasangi nama-nama pegawai yang dulu bekerja di stasiun radio tersebut. Bagian ini disebut kampung radio karena menyerupai perkampungan kecil yang didiami para karyawan radio.

Untuk memasuki kompleks inti, peserta harus melewati jembatan kayu sepanjang sekitar 10 meter yang bergoyang-goyang ketika ditapaki. Hati sedikit berdegup ketika menyadari lempeng-lempeng kayu itu terlihat rapuh dimakan usia.

Selepas melewati jembatan kayu, terdapat jalan beraspal kasar yang cukup lapang. Usia jalan beraspal itu sama dengan usia stasiun radio karena dibangun bersamaan. Dulu, jalan itu merupakan jalur utama yang menghubungkan gedung stasiun radio dengan kompleks perumahan karyawan di seberang jembatan.

Namun bagian ujung jalan beraspal itu kini sudah tidak dapat dikenali lagi. Peserta harus beralih pada jalan setapak sepanjang sekitar 200 meter untuk mencapai bangunan bekas stasiun radio.

Tak perlu kecewa bila melihat bangunan stasiun radio kini tinggal reruntuhan. Gedung ini memang sudah hancur dihajar bom saat tentara Jepang mengambil alih Bandung dari tangan Pemerintah Belanda pada tahun 1942. Reruntuhan tembok yang masih tampak kokoh itu adalah bekas stasiun radio terbesar di Asia pada era 1920-an.

Kontur parabola

Meski tinggal puing, tak sulit membayangkan betapa stasiun radio ini megah dan canggih pada zamannya. Arsitek pembangunan stasiun radio ini adalah CJ de Groot, seorang insinyur muda berbakat lulusan sekolah teknik di Delft, Belanda.

Sejak tahun 1908, De Groot banyak terlibat dalam pembuatan stasiun radio-radio pemancar dan penerima di Hindia Belanda, antara lain di Pulau Weh, Situbondo, Kupang, dan Ambon. Stasiun-stasiun ini diperlukan untuk menggantikan sistem komunikasi melalui saluran kabel laut yang dianggap sudah ketinggalan zaman.

Peneliti geologi Institut Teknologi Bandung, Budi Brahmantyo, menjelaskan, Gunung Puntang yang merupakan anak Pegunungan Malabar dipilih sebagai lokasi stasiun radio karena konturnya yang melengkung menyerupai parabola.

Stasiun Radio Malabar dibangun pada lembah Sungai Cigeureuh dengan membelakangi kungkungan tebing melengkung. Posisi stasiun dan lengkungan tebing ini menghadap ke utara, mengarah ke arah negeri Belanda.

”Konturnya yang menyerupai parabola sangat baik untuk menangkap gelombang dan meneruskannya ke utara, ke arah negeri Belanda. Dari sinilah komunikasi Bandung dengan Belanda dijalin,” katanya.

Ketua Masyarakat Geografi Indonesia T Bachtiar menceritakan, pemilihan Gunung Puntang di sebelah selatan Cekungan Bandung juga amat strategis. Sebab, lokasinya yang tersembunyi di daerah pegunungan tidak mudah diketahui oleh musuh.

Stasiun radio ini menggunakan pemancar yang panjangnya mencapai 2 kilometer. Pemancar dibentangkan sedemikian rupa menyerupai titian memanjang di antara celah tebing. Jika diukur dari dasar lembah, titik tertinggi pemancar berada di sekitar 500 meter. Untuk menghidupkan pemancar ini, diperlukan listrik berkekuatan 2.400 kilowatt. Sebelumnya, teknologi radio Eropa masih menggunakan saluran kabel laut.

Air terjun dan listrik

Kompleks radio ini memiliki sistem pembangkit sendiri. Salah satu bagian yang masih tersisa dari sistem pembangkit ini adalah air terjun setinggi sekitar 50 meter. Bentuknya unik sehingga kerap menjadi ”sasaran tembak” para pehobi fotografi. Sumber air untuk pembangkit listrik berasal dari Sungai Cigeureuh yang mata airnya terletak di Gunung Puntang.

Tak jauh dari air terjun ini terdapat kolam besar berbentuk hati yang dijuluki kolam cinta. Kolam itu diduga bekas kolam renang bagi pegawai radio.

Stasiun radio ini juga dilengkapi dengan perumahan karyawan, lapangan tenis, dan konon juga bioskop. Sayangnya, seluruhnya tinggal puingnya saja yang terserak di bawah pepohonan pinus.

Jika memandang jauh ke arah selatan dari kompleks radio tersebut, mata akan dihibur dengan deretan anak Pegunungan Malabar. Hijauan hutan heterogen di lembah Cigeureuh setidaknya memberikan kesegaran bagi mata yang lelah menyaksikan reruntuhan. Punggung Gunung Puntang seolah menempel pada induknya Gunung Malabar yang berketinggian 2.343 meter di atas permukaan laut.

Menurut catatan sejarah, stasiun radio ini dibuka pada tanggal 5 Mei 1923. Dalam acara peresmian itu, penyanyi Belanda, Willy Derby, melantunkan ”Hallo Bandoeng” yang mengisahkan perasaan orang-orang saat menelepon sanak saudaranya di negara lain. Judul lagu juga merupakan tanda panggil Stasiun Radio Malabar.

Tanda panggil itu sedemikian populer sehingga lagu ”Halo-halo Bandung” yang disebut-sebut sebagai ciptaan Ismail Marzuki, dikabarkan terinspirasi dari tanda panggil tersebut.

Dengan sedikit imajinasi, bisa dibayangkan suara itu mengudara hingga 12.000 kilometer jauhnya. ”Hallo Bandoeng! Hier Den Haag!”

(RINI KUSTIASIH/INDAH SURYA WARDHANI/LITBANG KOMPAS)
Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Advertisement