You are here >Home
Jalan-Jalan
Domestik
Asiknya Berwisata Kereta
Jalan-Jalan
Domestik
Asiknya Berwisata Kereta
Mon
15
Mar 2010
Asiknya Berwisata Kereta |
| Ditulis oleh arief | |||||||
| Senin, 18 Januari 2010 | |||||||
|
Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT Kereta Api memberi
kesempatan para pecinta kereta api dan pemerhati benda purbakala,
wartawan dan perwakilan dari Unesco untuk mengikuti wisata sejarah
“Heritage Railway Trip Jakarta-Bandung, Sabtu (15/1). Perjalanan menuju Kota Kembang Bandung akan ditempuh selama tiga jam menggunakan kereta api Ago Gede dari stasiun Gambir, Jakarta, yang berangkat sekitar pukul 09.15. Bagyo sang masinis memacu lokomotif yang membawa enam rangkaian gerbong dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Sebenarnya loko bisa saja melaju lebih dari 120 km/jam, namun karena rel yang digunakan bukan untuk kereta cepat, jadi 80 km/jam merupakan kecepatan paling aman. Jalur yang akan digunakan yaitu jalur Cikampek sejauh 151 kilometer. Jalur Cikampek dibangun perusahan Belanda bernama Staats Spoorweg Maatschappij (SS) tahun 1906. Jalur ini menggantikan jalur lama yang melewati Sukabumi dan Bogor yang tentunya memakan waktu tempuh lebih lama sekitar enam jam. Sepanjang perjalanan mata dimanjakan dengan pemandangan yang menyejukan. Hamparan sawah dan deretan pohon karet yang hijau sunguh jadi pengusir ngantuk dan penghapus kebosanan. Memasuki Desa Sumur Bandung laju kereta mulai melambat, rupanya kereta akan memasuki terowongan Sasaksaat yang panjangnya mencapai 950 meter. Salah satu terowongan aktif terpanjang yang dimiliki PT KAI saat ini. Terowongan ini menerobos bukit Cidepong yang berlokasi di Kampung Cipicung, Desa Sumur Bandung, Kabupaten Bandung. Terowongan ini pula konon merupakan buah kerja paksa Belanda yang dimulai sekitar tahun 1902 dan berakhir dua tahun kemudian. Gerimis menyambut kedatangan kereta setibanya di Stasiun Bandung sekitar pukul 12.30. Lokasi pertama yang akan dikunjungi rombongan adalah kantor pusat PT KAI di jalan Perintis Kemerdekaan Bandung yang tidak jauh dari jalan Braga. Gedung bergaya arsitektur artdeco ini salah satu bangunan cagar budaya peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh. Salah satu yang menarik dari gedung tersebut adanya pintu dan jendel yang terbuat dari besi baja. Sebelum memasuki gedung, Tedi sang loko tua tahun produksi 1926 sudah menyambut. Loko pabrikan Werkspoor Belanda ini hanya mampu melaju dengan kecepatan 15 km/jam. Meski berjalan lambat, loko ini berperan penting sebagai loko barang yang mengangkut hasil bumi di Rengasdengklok, Karawang, dan Cikampek. Setelah direstorasi tedi kemudian dijadikan monumen agar bisa dikenal oleh seluruh pengunjung. Setelah puas berkeliling kantor PT KAI, rombongan kemudian diajak menuju wisma Dayang Sumbi di Jalan Dayang Sumbi yang berdekatan dengan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) dan jalan Ir H Juanda (Dago). Gedung Dayang Sumbi didirikan tahun 1927. Gedung ini sekarang tengah menjalani konservasi dan pengembangan agar bentuk aslinya bisa tetap dipertahankan. Di sini rombongan berkesempatan menyaksikan proses konservasi gedung cagar budaya yang rencananya akan dibuka pula untuk umum sebagai salah satu tujuan wisata sejarah kereta api di Kota Bandung. Perjalanan wisata cagar budaya berakhir di gudang suku cadang kereta di Jalan Cikudapateuh yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Wisma Dayang Sumbi. Gudang ini masih aktif menyimpan beragam suku cadang kereta api. Rencananya PT KAI akan merubah fungsi gudang tersebut menjadi museum. Sore menjelang, gerimis tipis pun mengantar rombongan kembali ke Jakarta tentunya dengan kereta Argo Gede yang sudah pasti nyaman.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





