You are here >Home arrow Jalan-Jalan arrow Domestik arrow Solo Ride Jakarta - Jogja 4 hari 3 malam
Fri 03 Jul 2009

Solo Ride Jakarta - Jogja 4 hari 3 malam

Ditulis oleh pandu   
Selasa, 22 April 2008

Image

Motor saya Yamaha Scorpio Z 225 Tahun 2005. Kapasitas mesinnya 223 cc (oleh pabrikan dibulatkan jadi 225), SOHC. Saya memilih Scorpio karena value for money. Dengan harga Rp 19,875 juta, kita sudah dapat motor sport cruiser kelas menengah (> 200 cc), monoshock, dengan bobot relatif ringan di kelasnya. Larinya juga kencang: kecepatan jelajah (cruising speed) 100 km/jam dan kecepatan puncak yg pernah saya coba mencapai 145 kpj. Dahsyat. Tenaganya 19 PS. Lumayan besar untuk keperluan jalanan sehari-hari maupun berkendara jarak menengah. Kalo nanjak ke puncak gak terasa ngeden, masih bisa gigi 4 dgn kec. 80 kpj. Motor ini saya kasih nama Bonanza.

Saya sering jalan pake si Bonanza. Pulang ke Cirebon, jemput pacar ke Sukabumi, main ke Bogor, mengunjungi adik2 di Bandung. Pokoknya, sejak punya motor, ke mana2 saya lebih memiih mengendarai si Bonanza. Lama-lama bosan juga cuma jalan ke situ-situ aja. Tidak ada lagi tantangannya. Pengen jalan lebih jauh lagi. Saya lalu ikut mailing list Yamaha Scorpio, untuk menambah teman dan ilmu tentang motor dan perjalanan menggunakan motor. Di komunitas ini saya memang tidak terlalu akif. Kopdar aja baru tiga kali. Waktunya gak nemu. Kopdar biasanya hari Jumat jam 5 sore, sedangkan pada hari itu justru load kerja sdg numpuk dan biasanya baru beres lewat jam 7 malam. Boro-boro pula ikut touring (group ride). Susah ambil libur. Jadinya selama itu saya cuma bisa ngiri aja kalo teman2 pada touring.

Setelah lebih dari 3,5 tahun bekerja, saya kemudian memutuskan untuk pindah kerja. Sengaja saya atur agar tanggal efektif bekerja di perusahaan baru berselang seminggu dari pengunduran diri di tempat lama. Waktu yang tepat untuk memulai petualangan dengan motor. Tujuan perjalanan adalah Yogyakarta.

Saya browse internet dan tanya sana-sini untuk cari tahu apa saja yang harus saya persiapkan. Saya simpan Peta Mudik Lebaran tahun 2006. Membeli box belakang (rear top baggage box), tas samping (saddle bags), dan tune-up motor. Bonanza pernah sakit keras. Dalam suatu perjalanan ke Cirebon lewat Pantura mesinnya kehabisan oli. Akibatnya suara mesin jadi kasar. Entah kenapa bisa kehabisan oli. Padahal baru saja diservis besar karena dari knalpot keluar asap putih. Perbaikan menjadi normal memakan duit banyak sekali. Sejak itu saya jadi parno kehabisan oli. Kalo jalan agak jauh, saya selalu cek ketinggian oli mesin dan membawa oli cadangan.

The Ride

Hari ke-1 : 29 Mei 2007

Saya berangkat berdua saja dgn kekasih (halaah!) yg membonceng sambil bersandar nyaman pd box GIVI E-33. Pkl 5 pagi cabut dr Ciledug, tiba di Cileunyi, Bandung, pkl. 11. Lama ya? Itu karena beberapa kali stop di pom bensin. Bukan untuk isi bensin, tapi untuk mengeluarkan limbah dari tubuh. Huehehee... Nature call bro. Di Bandung istrirahat dulu di rumah nyokap-bokap.

Tepat pkl 13 kami lepas dr Cileunyi, dan memulai petualangan sebenarnya. Baru kali itu saya pergi ke "wetan" via Jalur Selatan (orang Cirebon biasanya mengistilahkan sebelah timurnya Cirebon sebagai "wetan", atau timur). Ternyata benar-benar "dangerously beatiful". Jalannya berkelok-kelok dan cenderung menanjak. Membelah hutan dan nyaris tidak ada warung atau permukiman di pinggir jalan. Udaranya juga sejuk dan pemandangan hijau di mana-mana. Kontras dgn Pantura yang kering, datar, ramai, panas, dan jalanannya lurusssss. Selama perjalanan hati saya dag-dig-dug. Maklum aja, ini perjalanan jauh saya pertama. Lagipula saya melakukannya sendiri saja (solo ride) dgn menempuh rute yang belum pernah sama sekali saya lewati. Trip meter telah saya putar ke posisi nol saat pengisian bensin terakhir di Cileunyi. Saya tahu dari berbagai informasi, either peta mudik, ataupun postingan teman2 di milis-milis, pom bensin di jalur selatan jumlahnya jarang. Tyt beneran. Pom bensin memang jarang banget. Jadinya parno deh. Pandangan mata saya berkali-kali selalu melirik ke jarum indikator bensin ataupun ke trip meter. Bisa aja indikator bilang masih penuh, tapi tyt trip meter sdh lebih dari 250 km. Kan berabe. Bdsk pglmn, kalo saya isi si Bonanza sampe full tank, dia bisa melaju sampai kira2 250-an km. Bisa aja lebih jauh, misalnya kalo jalanannya lurus datar dan gak pernah berhenti, kecepatan konstan di 90 kpj/6000 rpm. Tapi untuk amannya, saya jadikan 250 km sbg patokan harus isi bensin lagi. Kalo di Pantura kan kita bisa tunda isi bensin krn toh pom bensin bertebaran di mana-mana. Nah, di sini saya menghargai betul manfaat keberadaan pom bensin. Begitu melihat rambu2 pom bensin... rasanya seperti pucuk dicinta, ulam pun tiba. Hati yang gundah langsung sejuk seketika. Seperti oasis di tengah gurun. Hehehee..

Kehujanan di Tengah Hutan

Saya berfoto sejenak di perbatasan Jabar-Jateng. Itu sekitar pkl 16-an. Cuaca sdg buruk. Awan gelap. Rasanya spt sdh magrib. Tetes air jatuh satu-satu. Saddle bag (or side bag?) yg baru aja dibeli lgs saya bungkus dgn pelindungnya. Kami lgs pake jas hujan, lengkap dgn sepatu hujannya (yg ini dah lama belinya, saat kopdar kali ke-2). Perjalanan dilanjutkan sambil menembus tirai hujan yg semakin lama semakin lebat. Wah.., tyt helm GM (yg juga baru beli) tdk sanggup menghalau embun dr dengusan napas saya. Terpaksa saya berhenti di sebuah rumah makan untuk menunggu hujan reda. Kami tidak makan malam di situ karena ingin makan di Purwokerto saja. Lagipula masih sore untuk makan malam.

Hujan tyt lama redanya. Lebih dari sejam kami menunggu di rumah makan itu, dan hujan tidak berhenti juga. Ortu di rumah menelepon (Ih, hebat. Baru tau tyt Mentari ada sinyal di pedalaman begini), nanya sudah sampai mana. Ini merupakan kali kedua mereka menelepon sore itu. Mau tak mau harus berangkat lagi, sebelum kemalaman. Melanjutkan perjalan akan sangat berbahaya. Tapi mau bermalam juga tak mungkin. Tidak ada penginapan di sini. Harus mencari kota kecil terdekat yang ada penginapannya.

Sebelum berangkat lagi, saya pastikan kondisi roda-roda. Ban Dunlop 110/90 pada roda belakang yg baru dibeli menurut saya cukup baik kualitas cengkramannya. Menikung di jalanan penuh kelokan saya tetep pede. Sama sekali ga ada efek slip. Saya perhatikan juga roda depan yg pake pelek variasi norak model baling-baling. FYI, Bonanza punya pelek belang depan belakang. Ini karena roda belakang sempat ditabrak frontal dari samping oleh abg yg sdg ngejajal Shogun 125 SP barunya. Since pelek variasi gak bisa beli belakang doang, jadi terpaksa si baling2 diganti dgn pelek standar jari2. Nah, roda depan peleknya 17", dibalut ban Mizzle 100/90. Keduanya masih oke.

Jalan lagi, then. Jalanan gelap sekali. Menembus hutan. Sendirian. Sepi banget. Padahal baru pkl. 19. Tak ada warung sama sekali. Apalagi tambal ban. Duuhh.., bagaimana kalo pecah ban? Saya memang sudah membawa ban dalam cadangan. Tapi mompanya bagaimana? Saya gak bawa pompa! Saya berdoa sepanjang jalan. Menyanyikan Mazmur 23 (Mazmur=syair puji2an Nabi Daud untuk Tuhan. Mazmur 23 syairnya kira2 begini: “Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau…. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kegelapan…” Biasanya dinyanyikan kalo ada masalah. Hihihihi…).

Hujan tak pernah berhenti. Turun terus dengan curah yg tidak terlalu deras. Jalanan boncel-boncel di sana-sini. Bukan hotmix, seperti di Pantura. Untung juga sih, jadinya tidak licin. Rasanya lama betul kami menembus hutan untuk mencari kota kecil terdekat. Akhirnya, perumahan semakin sering dijumpai. Jalanan juga sudah tidak segelap tadi. Kiri-kanan ada penerangan dari lampu TL yang dipasang oleh warga. Kota pasti sudah di depan mata. Kota Karang Pucung. Semoga saja ada penginapan.

Kami stop di sebuah rumah makan kecil. Isi perut dulu situ. Sudah pukul 20. Aneh sekali. Di sini orang-orangnya berbahasa Sunda! Pacar saya yang orang Sunda kemudian sok akrab dengan berbahasa Sunda. Kali aja dikasih murah. Hehehe…

Kami tak ingin berlama-lama di situ. Seberes makan, kami langsung berangkat lagi. Tujuan kali ini adalah Purwokerto. Harus tiba di sana untuk bermalam. Sebenarnya saya kecewa. Dalam rencana, kami akan bermalam di Wonosobo. Pagi2 lgs ke Dieng. Tapi apa mau dikata. Si Eneng sudah ngambek. Dia kedinginan. Moralnya drop. Ngeri takut terjadi sesuatu di jalan. Saya juga takut tadi itu. Apalagi pas Papa telepon tadi di rumah makan di Wanareja tadi sempat bilang bahwa banyak begal di jalanan. Huaaa… Jalanan memang sepiiiiiiii banget. Padahal itu jalan utama lho, Lintas Selatan Jawa. Tapi rasanya kaya lewat jalan alternatif. Daripade kenape-kenape, mendingan bermalam dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Perjalanan dari Karang Pucung benar-benar membuat hati lega. Jalanannya terang dan cukup ramai. Kecepatan motor saya maintain di 70-80 kpj. Harus cepat, kalo nggak bisa kehujanan lagi. Setibanya di Wangon, kami berhenti di perempatan. Lewat mana nih? Lurus dan ke kiri sama-sama bisa berujung di Purwokerto. Bedanya, ke kiri lewat Ajibarang, kalo lurus lewat Rawalo. Sedangkan ke kanan akan mentok di Cilacap. Tanya orang di pinggir jalan, tyt not helping at all. Katanya sama aja. Halaah. Ya udah. Saya memutuskan lewat Ajibarang, alias ambil kiri. Pertimbangannya, kalo lurus berarti meneruskan jalur yang tadi kami lewati. Kemungkinan sepi dan gelap seperti tadi. Ajibarang mungkin lebih ramai.

Jalan ke Ajibarang ternyata menanjak dan memang relatif lebih ramai dpd jalanan sebelumnya. Ada ambulans yang sepertinya akan pulang ke Purwokerto. Larinya kencang sekali. Saya ikuti saja mobil itu. Gila, kecepatannya lebih dari 80 kpj. Padahal jalanan sempit. Untung sudah malam, shg tidak terlalu ramai. Ada pertigaan di Ajibarang, kami ambil kanan. Dalam hati saya bersorak, “Purwokerto, here we come!”

Bermalam di Purwokerto

Saat itu pukul 22 lewat. Udara basah, jalanan becek, hujan masih rintik2. Saya lupa, Purwokerto bukan Jakarta. Kotanya sepi sekali. Bagaimana kami mencari hotel? Sebenarnya saya kepikiran untuk langsung naik ke Baturraden. Dulu pernah kami sekeluarga berlibur dan menginap di sana. Hotelnya murah karena masih baru. Tapi katanya memang ratenya segituan. Bayangkan, Cuma Rp 90 ribuan tapi dapat hotel/resort yang kelas bintang 2. Saya sampaikan usul saya ke pacar saya. Dia menolak. Pertimbangannya, ke Baturraden masih harus naik sekitar 10 km. Jalanannya juga sepi.

Akhirnya kami mencari di kota. Jalan pelan-pelan menyusuri jalanan arah ke luar Purwokerto. Ada plang Hotel Borobudur, saya langsung belok masuk. Hotelnya lumayan. Kamarnya luas dan bersih. Tapi belum kelas bintang, masih melati. Tarifnya itu yang lumayan. Rp 198.000. Duh, mahal banget. Di luar budget sebenarnya. Tapi ya mau gimana lagi. Kami sudah lelah. Harus istirahat. Besok kami mulai lagi perjalanan ini.

Seluruh kendaraan di wilayah ini berpelat nomor “R” karena itu merupakan tanda wilayah eks-Karesidenan Banyumas dan Purwokerto adalah ibukotanya. Eks-Karesidenan Banyumas meliputi Kota dan Kabupaten Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Banjarnegara. Tapi sebenarnya Banyumas itu lebih luar dari sekedar eks-Karesidenan Banyumas. Coba lihat di Google Earth, cari Gunung Slamet dan Sungai Serayu, nah seluruh wilayah itulah Banyumas. Selain 4 wilayah administratif tadi, Banyumas sesunguhnya adalah plus 4 wilayah lagi, yaitu Kab. Kebumen, Kab. Tegal, Kab. Brebes, dan Kab. Pemalang. Luas sekali kan? Bentang alamnya komplit: laut, pantai, hingga pegunungan (Saya paham banget bahwa Gunung Slamet, yang lebih tinggi dari Gunung Ciremai, adanya di Purwokerto). Collectively, all the people here call themselves as wong Banyumas. Gampang mencirikan wong Banyumas dari orang Jawa lainnya, bahasa Jawa Banyumasan dengan logat yang khas sekali, istilahnya “ngapak”.

Saya merasakan kebanggaan wong Purwokerto atas kotanya. Tahukah Anda, Gatot Subroto, sang pahlawan nasional yang namanya sering digunakan sebagai nama jalan di mana-mana itu ternyata wong Purwokerto. Demikian pula Jenderal Besar Sudirman, dokter Margono Sukarjo (ahli bedah pertama di Indonesia), dan banyak lagi pahlawan Republik Indonesia berasal dari kota ini dan sekitarnya. Itu sebabnya Purwokerto dengan bangga menggunakan slogan “Kota Satria”. Gagah sekali ya! (Saya membandingkan dengan hometown saya, “Cirebon Berintan”, “Bandung Berhiber”, “Bandung Bermartabat”. Adverb di sebelah nama kota-kota itu adalah akronim dari kata-kata sloganistik seperti “Bersih-indah-tertib-aman”, “Bersih-hijau-berseri”, “Bersih-makmur-taat-bersahabat”. Maksa banget dan sangaaattt Orba sekaleee…). Meskipun Puwokerto tidak memakai kata2 sloganistik begitu, toh kotanya bisa bersih dan tertib: jalanannya lebar-lebar dan hotmix; pohon-pohon peneduh berjejer rapi di pinggir jalan; pedagang berbaris tertib di tempat yg disediakan. Gak kalah sama Cirebon deh! (Duu.., bangga amat ama Cirebon :P)

Hotel Borobudur menyediakan teh manis dan roti panggang untuk sarapan. Lumayanlah. Aku lihat Bonanza yang sedang dimandikan oleh pesuruh hotel. Kasihan dia. Kotor banget bekas jalan kemarin seharian. Menembus hujan, dihajar jalan jelek, penuh daki lumpur. Sekarang sudah mendingan tampangnya, ga malu-maluin. Aku ajak dia jalan keliling kota Purwokerto sambil hitung-hitung memanaskan mesin. Tujuan pertama adalah ke Baturraden. Naik ke utara sekitar 15 km-an dari kota atau sekitar 10 menit pake motor. Di jalan berhenti sebentar, nyempetin foto di depan Universitas Jenderal Soedirman. Norak sih, tapi biarin ah, namanya juga turis  :P

Tak lama kemudian kami tiba di Baturraden. Begitu masuk gerbang, kita akan terkesan dengan betapa terkelolanya tempat ini. Bersih dan tertata rapi, padahal tiket masuknya cuma Rp 5.000. Papan informasi menerangkan banyak yang bisa dinikmati di sini: bentang alam yang indah (scenic landscape), hawa yang sejuk, air terjun (Pancuran Pitu, Pancuran Telu, Curug Ceheng), danau (Telaga Sunyi), pemandian air panas, wana wisata (bumi perkemahan, Lembah Combong), sampai kebun binatang mini (Kaloka Widya Mandala), dan paint ball games. Tapi masing-masing tempat itu terpisah satu sama lain. Jalannya juga mendaki dan cukup jauh. Bikin malesss… Akhirnya kami merasa cukup menikmati berbasah-basahan di aliran sungai berbatu yang sering jadi gambar tema di kartu pos pariwisata.

Sepulang dari Baturraden kami menyempatkan isi perut di alun-alun. Baru pukul 10.30 sebenarnya, tapi perut sdh terasa sangat lapar. Saya pesan lontong opor, doi pesan bakso soto. Namanya cukup aneh bukan? Lontong opor sesuai namanya merupakan lontong yang disiram opor lengkap dengan suwiran ayam yang banyak banget. Sedangkan bakso soto itu mirip soto mie tapi dengan kuah soto dan mienya diganti bihun. Cukup lezat juga lho, dan porsinya bisa mengganjal perut sampai kira-kira tiba di Magelang nanti.

Ke Dieng Lewat Mana?

Kami check-out pukul 12.30. Target etape kali ini adalah Magelang, rutenya lewat Wonosobo. Tak apa tak ke Dieng, setidaknya melewati Wonosobo. Kami perkirakan akan tiba di Magelang sekitar magrib. Perbekalan mencukupi. Di alun-alun tadi sudah mampir ke Alfamart sebentar beli Krating Daeng, roti, Beng-beng, Aqua, dan beberapa snack.

Tak seperti tadi malam, kali ini saya larikan motor dengan cepat. Bukan apa-apa, saya gak mau terlambat tiba di Magelang. Maksud saya ke kota itu sebenarnya ingin ziarah (nyekar) ke makam Opa, Oma, dan kakak sulungnya Papa.

Meskipun orang Ambon asli, hometown Opa adalah Magelang. Pergi dari Haria, Pulau Saparua, Maluku, pada usia belasan, beliau sekolah di Makassar hingga tamat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, jenjang pendidikan zaman kolonial setara SLTP). Beliau lalu masuk ke Bala Keselamatan (Salvation Army di Indonesia) dan ditugaskan ke Jawa, di Magelang tepatnya. Di sinilah Opa bertemu Oma yang orang Yogya asli. Setelah menikah, Opa kemudian ditugaskan ke beberapa kota lain, antara lain ke Medan, Bandung, Cirebon, dll. Itulah sebabnya Papa dan tante-tanteku berkota-kelahiran berbeda-beda. Opa dan Oma menghabiskan masa tua di rumah anak-anaknya karena tak pernah memiliki rumah pribadi selama dinasnya di Bala Keselamatan, sedangkan untuk kembali ke Haria sudah tidak lagi menarik baginya. Apalagi setelah Oma wafat tahun 80-an, beliau seringkali berpindah tempat tinggal, kadang di Jakarta, lalu di Tangerang, dan terakhir di Cirebon bersama keluarga kami. Dari berbagai kota yang pernah ditinggalinya, ia paling kerasan di Magelang. Di kota ini ia memulai karir dan bertemu jodohnya, juga dua menantunya adalah putra asli Magelang. Maka dari itu, di tahun ’90-an makam Oma dipindahkan dari Menteng Pulo, Jakarta ke Giri Loyo, Magelang. Opa wafat sekitar sepuluh tahun kemudian dan dimakamkan di sebelah istrinya tercinta. Ke sanalah tujuan perjalanan saya ini sebenarnya. Saya ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir orang yang namanya selama ini saya gunakan dan orang-orang yang dicintainya. Saya tak mau kemalaman atau kehujanan saat tiba di Giri Loyo.

Dengan cruising speed 100 kpj, kami seperti terbang menunggang kuda sembrani. Sebentar saja sudah melewati Purbalingga dan sekarang di Klampok. Kulihat jauh ke depan, awan gelap menggantung di atas Banjarnegara. Gawat. Bisa-bisa kemalaman dan kehujanan lagi. Istirahat sambil isi bensin di Mandiraja, kami bersiap mengantisipasi hujan: pakai jas hujan dan sepatu hujan dan membungkus tas samping. Kami ngebut menghampiri hujan. Deras sekali. Butiran airnya besar-besar memukuli visor helmku. Mataku melotot hampir tak berkedip menyibak tirai hujan menembus ke jalanan yang sekarang sepi karena motorist lainnya banyak yang berteduh. Lampu headlamp dan sen kuhidupkan agar pengguna jalan yang lain menandai kehadiranku.

Pepohonan besar menaungi sepanjang jalan raya tak bermarka, berkelok-kelok, sempit, tak mulus, dan semakin menanjak saat kami lepas dari Banjarnegara. Hujan masih belum juga berhenti. Beberapa saat reda menjadi gerimis, kemudian deras lagi. Tak ada tanda-tanda akan berhenti. Langit kelabu hingga ke cakrawala.

Akhirnya kami memasuki Wonosobo. Kota kecil nan indah. Sejuk dan selalu hujan. Saya teringat Bogor. Bedanya, di sini tak banyak angkot. Saya perhatikan kiri-kanan, banyak sekali nama toko, restoran, dan tempat komersial lainnya menggunakan embel-embel “Dieng”, misalnya “Dieng Motor”, “Restoran Dieng Indah, “Dieng Jaya”, dsb. Memang ke Dieng paling dekat lewat Wonosobo, karena Dieng memang masuk wilayah Kab. Wonosobo. Mungkin seperti antara Baturraden – Purwokerto. Tapi, tak seperti Baturraden yang hanya bisa dicapai lewat Purwokerto, ke Dieng bisa dari mana saja. Anda bisa masuk ke Dieng lewat Kab. Banjarnegara (BanjarnegaraàKarang KobaràBaturàDieng) atau dari Kab. Temanggung (ParakanàNgadirejoàDieng). Rupanya Dieng sangat berarti bagi warga Wonosobo dan mereka ingin mengidentikkan Dieng dengan Wonosobo. Saya tersenyum sendiri saat menyusuri jalanan kota basah ini karena tiba-tiba teringat Malaysia yang berusaha mengidentikkan diri dengan tidak sah sebagai pemilik batik, wayang, keris, dan lagu-lagu daerah Nusantara.

Wonosobo benar-benar indah dan ngangeni. Apa mungkin karena cuaca mendung dan udara basah? Kotanya kecil sehingga sepertinya setiap orang saling mengenal. Pepohonan besar-besar menaungi jalanan yang ke perumahan, mirip seperti Jl. Juanda di Bogor. Jalannya mulus dan marka jalan jelas. Keluar kota jalanan berliku-berliku dan di kiri-kanan terhampar luas perkebunan tembakau. Jalanan seperti diapit dua gunung (Hush, jangan ngeres!): Gunung Sundoro di utara dan Gunung Sumbing di selatan. Nama daerah ini Kretek (Apakah dari tempat ini istilah rokok kretek berasal?). Bentang alam panoramik dan menakjubkan ini berlanjut hingga ke Parakan. Sebentar lagi Temanggung, dan sekitar sejam kemudian kami akan tiba di Magelang.

Mencicipi Tahu Pojok di Magelang

Hujan masih turun rintik-rintik saat kami tiba di kompleks pemakaman Giri Loyo, Magelang. Baru pukul 16.30, tapi cuaca mendung dan langit gelap syahdu. Suasana romantik membuat saya berdoa lebih khusyuk. Tak terasa air mata menetes dan air keluar dari hidung yang memerah. Makam Opa bersebelahan dengan makam Oma, sedangkan kakak sulungnya Papa yang meninggal jauh lebih dulu berbagi liang lahat dengan makam Oma. Seperti biasa, kuncen langsung sibuk begitu keluarga sang ahli kubur datang. Marmer makam langsung dibersihkan dan dilap agar kami tak kebasahan saat bersimpuh. Kami tak bisa berlama-lama berdoa. Hujan yang membuat baju kian basah memaksa kami segera pergi. Kutatap nisan bertuliskan “Dominggus Manuhutu” untuk terakhir kali sebelum mengangkat kaki. Tunai sudah janji untuk mengunjunginya sebelum saya menempuh hidup baru. Saya yakin Opa dan Oma tersenyum pada saya dari surga pada saat itu.

Perut lapar lagi minta diisi. Saya ingat salah satu episode Wisata Kuliner-nya Oom Bondan Winarno bahwa ada jajanan khas Magelang, namanya Tahu Pojok. Segera saja kami melesat berkeliling kota mencari rumah makan yang legendaris itu. Ternyata lokasinya benar-benar di pojok alias di persimpangan Jl. Tentara Pelajar, dekat alun-alun. Cukup mudah menemukannya karena banyak kendaraan parkir di depan rumah makan yang sign-nya bertuliskan “Tahu Pojok”. Nama resmi jajanan ini sebenarnya kupat tahu, tapi dari beratus-ratus penjual kupat tahu, yang ngetop adalah rumah makan yang ada di pojok jalan ini. Seperti namanya, kupat tahu ya terdiri dari kupat (ketupat) dan tahu. Saya sempat sangsi makanan ini tak beda dengan ketoprak di Jakarta. Ternyata kupat tahu is completely different. Makanan ini berkuah dan memakai banyak kecap sehingga rasanya segar-manis. Isinya lebih lengkap daripada ketoprak, tapi tanpa toge dan bihun. Menurut saya pribadi, kupat tahu lebih lezat dan bergizi daripada ketoprak.

Kenyang makan, kami langsung ke Borobudur mencari penginapan. Penginapan di sana semestinya lebih murah daripada di kota. Tapi apa nyana, karena besok adalah Hari Raya Waisak maka penduduk Borobudur sedang mréma (istilah Cirebon. Kira-kira searti dengan peak season). Tarif hotel/penginapan/losmen jadi amat mahal, tak kira-kira hingga tiga kali lipat dari hari biasa. Terpaksalah kami kembali lagi ke Magelang. Kami putar-putar keliling kota mencari hotel yang sesuai dengan selera tapi pas dengan kantong. Sempat bertanya ke tiga-empat hotel, tapi tak ada yang sreg. Baru kemudian di Jalan Daha kami dapat hotel melati (penginapan) dengan tarif yang sangat bersahabat, hanya Rp 65 ribu sudah dapat kamar yang bersih double bed dan tivi. Hotel Ardiva namanya

 

Taken from the Story of Andre D Manuhutu

http://profiles.friendster.com/11166589

 

Comments
Add New Search RSS
willy   |118.136.229.xxx |2008-10-11 19:12:53
perjalanan yang manteb...
artikel ini berguna banget, soalnya desember ini
rencana mo jalan ke jogja nyemplak si pulsie (p180) sendiri tanpa
boncenger...
jalan jauh pertama kali buat motor dan saya sendiri, bingung lewat
utara apa selatan?

setelah baca artikel ini positif lewat selatan, thanx a
lot bro...
God Bless.
mikoda   |Administrator |2008-10-12 08:18:46
avatar nih bang andre emang jago banget nulis pengalamannya, seakan di buat mengalir
menikmati musik indah di telinga kita.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya


Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
feed image