| By dakomi,
on 23-08-2008 07:01, 07:01
|
Views : 424  |
Jika
Anda penggemar sate kambing, marilah bersekutu dengan panji baru: Front
Pemangsa Sate. Dan segeralah ”rame-rame” menyerbu Pasar Jejeran,
Wonokromo, Pleret, Jalan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Di situ Anda akan
menemui aliansi kelezatan dan gurihnya bakaran daging wedhus gembel
alias domba gimbal yang cuma berbumbu garam—populer dengan sebutan sate
klathak.
Jadi, meskipun pakai label ”front”, ini tak ada urusan dengan
kekerasan. Paling banter cuma berurusan dengan remasan. ”Biar empuk
setelah dipotong-potong, dagingnya lalu saya remas-remas pakai tangan
biar garamnya merata. Setelah itu baru ditusuki pakai ini,” tutur Kang
Bari yang bernama lengkap Sobari, 31 tahun, sambil menunjuk bekas
jeruji sepeda yang biasanya ditusuki enam atau tujuh keratan daging.
Ada yang bilang, kelezatannya tak kalah dengan lamb chop olahan hotel
bintang lima yang pakai daging domba impor. Atau dalam istilah Ayu
Utami, sastrawan kondang yang saban ke Yogya tak pernah absen menyantap
sate klathak, ”Rasanya lumer di mulut. Segalanya tepat dan sempurna.
Dagingnya segar, bumbunya minimal, panasnya baru dari api, dan kedainya
tanpa kosmetik. Unik dan uuuenak banget.”
Berbeda dengan sate pada umumnya, sate klathak memang sangat minimalis.
Jika umumnya sajian sate kambing dilengkapi bumbu kacang atau kecap,
irisan tomat, rajangan brambang, cabai, dan kubis, sate klathak tampil
lugu. Sepertinya, sudah sangat yakin akan kelezatannya. Seporsi cuma
berisi dua tusuk. Disajikan begitu saja, masih lengkap dengan tusukan
jeruji sepanjang 30 cm. Tanpa hiasan, tanpa manipulasi. Bisa disantap
sebagai nyamikan melengkapi wedang teh nasgithel (panas, legi, kental).
Atau sebagai makanan utama yang biasanya dengan nasi yang disiram kuah
gulai.
Selain penulis Ayu Utami dan Danarto, banyak pesohor
lain yang mendoyani sate Kang Bari. Dia menyebut beberapa nama: Didi
Petet, Dedy Mizwar, Wulan Guritno, Mira Lesmana, Riri Riza, Tora
Sudiro, Komeng, Trie Utami, Rieke Dyah Pitaloka, Nano, dan Ratna
Riantiarno.
Populernya sate klathak, seperti jamaknya terjadi
di negeri ini, selalu melahirkan epigon-epigon yang menguntit sebuah
kreasi. Kebanyakan penjual sate kambing (juga tongseng dan gulai) di
sepanjang Jalan Imogiri Timur yang jumlahnya hampir seratus warung
selalu menyediakan menu ini. Ada yang menyerupai olahan Kang Bari,
tetapi tidak sedikit yang sudah dikembangkan, misalnya ditambah merica
sehingga jadi rada pedas seperti yang dilakukan Pak Untung, pemilik
kedai di daerah utara pasar.
”Di sini pun, kalau ada yang
minta pedas, ya saya tambahi merica. Kalau mau manis, pas meremas
dagingnya saya tambahi kecap,” ujar bapak satu anak ini seraya
menerangkan, gagasan membuat sate klathak diinspirasi masa kecilnya
yang doyan makan emprit bakar.
Dia berkisah, dulu sering
berburu burung emprit. Jika buruan didapat, biasanya sang emprit
dikuliti, dibuang jeroannya, lalu hanya ditaburi garam, langsung
dibakar. ”Biasanya emprit ditusuk pakai jeruji payung. Cuma dibakar
begitu saja, kok rasanya enak,” kenangnya. Rasanya gurih banget. Selain
itu, orang di desanya juga punya kegemaran makan klathak-melinjo, yaitu
buah melinjo yang dibakar. Rasanya juga gurih. Dari yang serba gurih
lantaran proses pembakaran dengan logam itulah, Kang Bari menamai
kreasinya dengan nama camilan yang sudah beken sebelumnya: Klathak!
Kambing gemuk
Saban hari setidaknya Kang Bari menghabiskan 20 kilogram daging
kambing. Itu didapatnya dari dua wedhus gembel yang disembelihnya
sendiri. ”Kalau bukan jenis gembel, baunya prengus,” terang Kang Bari
yang sekali belanja langsung beli 10 ekor di Desa Banyakan, Sitimulyo,
Piyungan, Bantul.
Jadi, bisalah dibayangkan, sudah berapa ribu
kambing yang disembelihnya jika Kang Bari memulai bikin sate klathak
sejak 1995. Apalagi jika dihitung sejak zaman leluhurnya. Kang Bari
adalah generasi ketiga.
”Dulu, sebelum tahun 1945, kakek saya,
Mbah Ambyah, juga jualan di sekitar pasar sini. Di bawah pohon waru,
hanya dengan satu meja dan dua lincak. Yang dijual tongseng singkong
dan tongseng tahu. Daging kambingnya cuma sedikit. He-he-he.., waktu
itu kan tidak semua orang bisa makan daging,” kenang anak keempat dari
sepuluh bersaudara ini sambil meneruskan, ”Lalu dilanjutkan ayah saya
dan saya membantu bikin minuman.”
Begitulah, setelah Pak
Wakidi, ayahnya, lengser keprabon, warisan takhta sate-tongseng gantian
diduduki Kang Bari, sementara Jono, 27 tahun, adiknya yang nomor enam,
jadi pembuat minuman. ”Sekarang Jono buka warung sendiri. Juga jualan
sate klathak dengan resep yang sama. Tempatnya di sana tuh,” ujar Kang
Bari sambil menunjuk sisi selatan pasar.
”Getih kami ini kan
getih sate,” ujarnya bercanda. Maksudnya, dari puluhan penjual
sate-tongseng di kawasan Pasar Jejeran umumnya masih punya hubungan
famili dengan dirinya. Dia menyebut sejumlah nama yang berprofesi
serupa dirinya: Pak Lik Yabini, Ibu Choiriyah, Pak Pong, Bu Jazim, Pak
Lik Sijam, Kang Keru, Kang Salam, dan Kang Ci’un.
Yang pantas
dibanggakan, meski medan bisnisnya sama, mereka tetap rukun sentosa.
Persaingan tidak menyebabkan lahirnya intrik dan saling menjatuhkan.
Apalagi memuntahkan kekerasan.
Karena itu, jika FPS, Front
Pemangsa Sate (Klathak), ingin meningkatkan kadar kolesterol dan
menyempurnakan kecerdasan lidahnya, jangan gentar menyerbu front
sate-tongseng di kawasan Pasar Jejeran. Inilah penyerbuan yang
dibenarkan. Karena setiap serbuan pasti akan disambut kelezatan kuliner
kelas kampung, dan itu berarti rezeki bagi mereka yang menggantungkan
hidup pada sate klathak.
Selamat menyerbu! Ini front memang berbeda.***
Legitnya Tongseng Kicik
Kalau di jagat politik ada dwitunggal Soekarno-Hatta atau SBY-JK, di
jagat kuliner ada tritunggal: sate-tongseng-gulai. Ketiga menu ini
selalu tampil bareng. Jika sebuah kedai berani memproklamasikan jualan
sate kambing, bisa dipastikan sekaligus jualan tongseng dan gulai.
Soalnya trio menu ini memang saling melengkapi. Untuk memasak tongseng
dibutuhkan kuah gulai.
”Lha kalau menyembelih kambing hanya
untuk dibikin sate thok, ya rugi. Nanti jeroan, iga, kikil, buntut dan
kepalanya ndak bisa dimanfatkan. Makanya dibuat gulai,” kata Kang Bari
yang menyerahkan tugas pembuatan gulai kepada Bu Alfiah, 55 tahun, ibu
kandungnya.
Kang Bari mengungkap rahasia dapur, ”Gulai itu
bumbunya paling banyak. Kurang lebih ada 29 macam, antara lain santan
kelapa, gula jawa, cengkeh, jinten, kapulaga, garam, brambang, bawang,
salam, laos, kemiri, tumbar, kayu manis, cabe merah, dan lain-lain.”
Bisa dibilang, kualitas gulai inilah yang membedakan rasa tongseng dari
setiap warung sate. Ada yang memanjakan santan sehingga kuahnya kental,
sehingga jika dibikin tongseng terasa lebih legit. Ada yang cenderung
pedas dan asin. Ada yang encer. Nah, gulai olahan The Bari Family ini
tergolong rada kental. Selain cocok menjadi kuah tongseng, juga bisa
dibuat menu lain, kicik namanya. Cara bikinnya, daging kambing ditumis
sama seperti tongseng. Tapi kuahnya dibiarkan menguap sampai agak
kering. Yang tersisa tinggal daging dengan kuah sangat kental seperti
gulali. Rasanya lebih manis dan asin. ”Harga seporsi kicik sama dengan
sate klathak, hanya sepuluh ribu,” kata Kang Bari.
Jadi, jika
kelak tongseng kicik juga jadi sasaran serbuan Front Pemangsa Sate
(Klathak), naga-naganya tritunggal ”sate-tongseng-gulai” akan segera
menjelma jadi ”catur-tunggal”: sate-tongseng-gulai plus kicik. Sebuah
kombinasi anyar yang bakal mewarnai warung sate di Yogyakarta.
Penulis : Butet Kartaredjasa - Aktor dan Pemangsa Makanan Enak
Sumber : Kompas Community
|
|
|
By: leolintang (Registered ) on 02-09-2008 16:34, 16:34
» Reply to this comment...