Saat selintas mendengar kabar ada beberapa teman Jalansutra mau menerbitkan tulisan tentang Kuliner, saat itu terfikir kalau ini paling tulisan kuliner "me-too" berbentuk tabloid yang menyesaki rak berbagai toko buku.
Tapi saat melihatnya di Gramedia, ternyata bentuknya bukan seperti tabloid yang selebar koran, tapi seukuran Intisari dan saat mem-balik2 isinya saya terpesona. Bukan saja kertasnya begitu lux, juga cetakannya sungguh prima, fotonya cantik2 warna warni - ini mah bener2 serius bikin bukunya.
Di cover buku yang merupakan buku pertama dari serial Kuliner Jalansutra ini, tampak foto pak Bondan Winarno yang menekankan satu istilah baru yaitu "Kecerdasan Lidah". Dalam Kata Pengantar, pak Bondan menyampaikan bahwa dalam komunitas Jalansutra yang anggautanya sudah lebih dari 12.000 orang, daftar tempat makan tidak dianggap informasi penting. Karena info tentang kuliner yang dicari bukan sekedar nama tempat, tapi review yang akurat, jujur, digambarkan secara baik dan didasari pengetahuan/pengalaman kuliner yang bagus.
Didalam komunitas Jalansutra yang sudah berusia lima tahun inilah banyak reviewers andal yang foodies dalam arti sejatinya, yaitu mereka doyan makan dan mengapresiasi makanan yang dinikmatinya. Mereka juga mampu menganalisa elemen2 yang dikandung dalam makanan - ini yang dimaksud mempunyai lidah yang "cerdas". Dan yang terpenting - yang ditunggu-tunggu rekan lainnya adalah mereka mampu mengartikulasikan temuannya itu dengan kata-kata yang membuat orang lain sampai "jatuh ngiler" saat membacanya.
Hal inilah yang rupanya ditangkap oleh sebuah penerbit, yang memberikan kepercayaan kepada beberapa reviewers andal Jalansutra untuk mengisi serial pertama Kuliner Jalansutra ini.
Serial pertama ini berjudul Tempat Makan Jakarta Tempo Doeloe, saat membacanya memang membuat saya terbawa kemasa lalu. Saat masih "ingusan" saya pernah diajak almarhum ayah mampir ke Restoran Tan Goei, Ice Cream Ragusa, dan juga Restoran Trio, tentu ingatan sudah samar-samar karena sudah begitu lamanya. Hebatnya tempat2 itu bisa masih bisa bertahan walaupun saat ini bermunculan begitu banyaknya restoran baru yang menawarkan aneka menu masa kini.
Review Tape Uli Cisalak serta Laksa Cibinong-nya Rumah Makan Pengharapan, membawa kenangan saya ke masa2 ABG yang nyaris setiap hari Minggu ngukur jalan Tangerang - Puncak via Cibinong/Cisalak. Kami kebut2an pakai sepeda motor, dan masih teringat sok gayanya kami saat memasuki rumah makan itu dengan muka belepotan debu.
Memang dari 20 tempat makan jadoel yang di review itu, tidak semua pernah saya kunjungi, tapi review ini membuat saya jadi terprovokasi untuk bukan saja napak tilas, juga ingin bisa melihat dan menikmati suasana/makanan berbagai tempat makan/minum yang terbukti tetap diminati walau sudah puluhan tahun berdiri.
Buku ini memang begitu lengkap isinya, begitu memudahkan dalam mencari lokasinya, karena lengkap dengan alamat dan nomer tilpon, jam buka, sampai harga dari makanan-nya. Sampai pula plus minus-nya kalau kita makan disitu, dan skoring/penilaian dari para reviewers-nya.
Buku keren setebal hampir 100 halaman itu yang dibandrol hanya Rp.29.800,- saja tentu bukan saja menjadi "buku wajib" anggota komunitas Jalansutra, juga bisa menjadi buku panduan yang berharga bagi siapapun yang ingin mengetahui mengapa kita pantas mencari makanan di tempat se jadoel itu.
http://jalanjalan.multiply.com/reviews/item/20
|