You are here >Home arrow Kuliner arrow Kuliner-Lokal arrow Sensasi kuliner di Pontianak
Tue 16 Mar 2010

Sensasi kuliner di Pontianak

Ditulis oleh koko   
Senin, 05 Januari 2009
kota_air_pontianak.jpg1.jpgMenyebut nama Pontianak ternyata tidak hanya bubur pedas, jeruk dan pisang gorengnya saja yang terkenal. Ada makanan khas lainnya yang patut di cicipi. Perjalanan kami ke Pontianak dan Singkawang mencoba menyusuri aneka santapan khas yang istimewa.

Text by A. Irwan Trisnadi, Photos by Ristiyono

Sensasi kuliner di Pontianak memang kaya rasa dan mengasyikan. Betapa tidak, dari kultur yang berbeda namun hidup saling berdampingan dapat memberi warna terhadap aneka kuliner di Pontianak dan Singkawang. Mereka adalah masyarakat keturunan Tionghoa, Melayu dan Dayak.

Langkah pertama yang kami lakukan adalah menikmati malam pertama di Pontianak. Salah satu area kuliner di kota Pontianak saat menjelang malam adalah sepanjang jalan Gajah Mada yang merupakan kawasan Pecinan. Setiap malam selalu berderet aneka penjual makanan khas terutama makanan khas Tionghoa. Banyak pula terdapat warung kopi yang digemari kaum muda. Pasalnya, selain dilengkapi dengan musik dari CD, terdapat pula siaran televisi kabel yang dipancarkan melalui proyektor. Belum lagi fasilitas wi fi yang sering dimanfaatkan mahasiswa.

Kami sempat mencoba disalah satu resto yang menawarkan makanan daging tupai, ular dan labi-labi. Kami memesan menu makanan daging tupai dan labi-labi. Labi-labi adalah sejenis kura-kura air tawar yang memiliki tempurung bulat polos. Hidungnya runcing dan warnanya tubuhnya hijau cerah (kalau muda) dan kecoklat-coklatan (kalau tua). Daging labi-labi yang kenyal dan kaya lemak ini disajikan dengan dengan kuah manis panas dengan bumbu jahe dan rasanya manis seperti semur. Sementara daging tupai goreng ini disajikan bersama dengan kuah kental yang manis.

x40 culinaire pontianak 2

Selain itu, menu
Chinese food lainnya yang terkenal adalah mie tiaw Apollo di jalan Pattimura dan mie tiaw 72 di jalan Antasari. Pilihannya dari mie tiaw goreng atau siram. Keduanya sama-sama nikmat karena mie tiaw ini dilengkapi dengan daging sapi, jeroan, telur, daun sawi dan toge.

Makanan lainnya yang khas adalah Sotong Pangkong. Menu ini juga merupakan menu khas saat bulan Ramadhan. Sotong Pangkong adalah sotong atau cumi yang telah dikeringkan dimasak dengan cara di panggang. Usai dipanggang, inilah yang membuatnya khas, lalu di pangkong atau artinya di pukul-pukul dalam bahasa Melayu agar dagingnya terasa lebih empuk. Kemudian, disajikan bersama dengan kuah sambal kacang atau asam pedas manis. Saat dilumuri kuah sambal, rasa gurih dari cumi ini terasa nikmat di mulut. Namun tetap saja bagi yang tidak terbiasa menikmati sotong, akan mengeluhkan kenyal dan alot. Dibeberapa tempat sotong tersebut di giling, agar lebih mudah mengkonsumsinya.

Ciri khas kota Pontianak yang dilintasi oleh tiga sungai besar juga dimanfaatkan sebagai daya tarik oleh sebuah cafe. Pengalaman yang ditawarkan adalah menikmati eksotisme sungai Kapuas sambil menyantap makanan. Sensasi ini terdapat di Cafe Serasan yang berlokasi di jalan Swadaya di daerah Kampung Banjar Serasan atau dekat jembatan Kapuas.

Cafe yang berada di tepi sungai ini memiliki area terbuka dengan panggung musik setiap
weekend dan area terapung yang berada di atas air. Tapi yang sering dipilih oleh tamu adalah fasilitas perahu wisata yang dapat dipesan atau membawa minimal 10 orang. Saat menjelang sunset menjadi momen yang sering dipilih tamu untuk menikmati santap di atas perahu ini. Sambil menyusuri sungai Kapuas, kita dapat menikmati aneka makanan seafood seperti ikan Jelawat, Senangin, Kakap, Bawal atau Patin. Aneka pilihan bumbu mulai dari bumbu asam pedas, asam manis, sambal balado, hingga goreng tauco.

Di sebelah kiri dan kanan café disepanjang sungai masih tersisa potongan kayu gelondongan yang dijadikan meriam karbit saat bulan Ramadhan kemarin. Aksi menyulut meriam karbit antara kampung di bantaran sungai Kapuas ini menjadi salah satu tontonan menarik selama bulan puasa. Dentuman nyaring ini terdengar seolah saling bersautan di sepanjang sungai.

x40 culinaire pontianak 3

Pasar Hong Kong di Singkawang

Perhatian kami lalu beralih ke kota Seribu Kuil atau Singkawang. Kabar tentang keunikan kota yang mayoritas penduduknya warga keturunan Tionghoa ini juga menyimpan pesona kuliner tersendiri. Perjalanan selama tiga jam dari kota Pontianak terbayarkan oleh suasana kota kecil yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Pontianak.

x40 culinaire pontianak 4Wilayah Singkawang juga termasuk di pesisir pantai, namun memiliki kawasan perbukitan yang menawan. Dari atas bukit ini terlihat seluruh penjuru kota. Warga keturunan Tionghoa ini memang mayoritas, bahkan bupati Singkawang yang baru terpilih dalam pilkada juga keturunan Tionghoa.

Nah, di salah satu sudut pusat kota di Singkawang adalah sepanjang jalan Diponegoro. Sepanjang jalan ini merupakan area bisnis dan banyak terdapat deretan pertokoan aneka ragam. Nah, diantara deretan toko itu terdapat rumah makan Bakso 68. Nuansa hiasan khas ala Tionghoa menghiasi tempat makan ini.

Dari namanya tentu saja menu utama adalah bakso sapi, tapi bakmi ayamnya juga tak kalah enaknya. Pembeli dapat memilih mie kuning, atau bihun untuk disajikan dengan bakso sapi. Selain itu, dalam satu porsi bakso daging sapi ini terdapat pula babat, tahu, toge, daun sawi dan seledri.

Selain bakso 68, ada juga jajanan yang berada di tepi jalan - tepatnya di dalam gang dibelakang Puskesmas Pasar. Makanan yang tersedia hanya rujak buah dan es cendol, tapi selalu ramai pembeli bahkan rela antri atau sekedar dibawa pulang bila tidak mendapatkan tempat duduk kayu panjang.

Tapi rujak yang dibuat oleh emak gendut, demikian orang sana memanggil penjual rujak ini, rasanya memang mantap. Aneka buah-buahan seperti mangga, pepaya, nanas, bengkoang, jambu ini dilumuri bumbu kacang ditambahkan ebi dan emping sebagai
topping-nya. Selain rujak buah ada juga rujak sayur. Sementara es cendolnya juga tak kalah enaknya.

Belum puas menjelajah setiap pelosok kota Singakawang, kami mencoba bubur gunting di jalan Yos Sudarso 36. Bubur gunting ini berbeda dengan bubur gunting dari Banjar yang terbuat dari sagu. Kalau di Singkawang, bubur gunting adalah bubur dari kacang hijau yang kulitnya dikupas dan dimasak dengan tepung kanji. Lalu ditaburi roti cakwe yang dipotong-potong dengan gunting.

Saat menjelang sore, pedagang di sepanjang jalan Bawal dan sekitarnya mulai bersiap-siap menata dagangannya. Sejak maghrib hingga tengah malam sepanjang jalan ini berubah menjadi deretan penjual makanan. Usai toko-toko mulai tutup dan lalu lintas pun tidak seramai siang hari, mereka mulai menata gerobak dagangan di tepi jalan untuk berdagang. Setiap malam kawasan ini berubah menjadi pasar Hong Kong.

Deretan penjual makanan, minuman, sampai CD dan poster saling menjajakan dagangan mereka. Mengapa pasar malam disini disebut dengan Pasar Hong Kong, karena sebelumnya banyak pedagang Tionghoa bahkan ada yang berasal dari Taiwan yang ikut berjualan. Mereka menawarkan aneka makanan khas Tionghoa termasuk kedai kopi dan disini menjadi tempat rendezvous bagi mereka. Sayangnya, saat ini pasar Hong Kong telah berubah menjadi deretan penjual makanan Melayu terutama masakan Padang. Tidak ada lagi nuansa Tionghoa yang dapat kami rasakan di sepanjang jalanan pasar Hong Kong ini.

x40 culinaire pontianak 5

Peng Kang

Penelusuran kami terus berlanjut terus ke utara dari Pontianak ke arah Mempawah. Sekitar satu jam perjalanan selepas kota Pontianak menuju kota Singkawang, tepatnya didaerah Peniti, Siantan terdapat resto Pondok Pengkang yang menjual panganan khas warga keturunan Tionghoa yaitu Lempar atau Pengkang.

Lempar ini terbuat dari beras ketan yang didalamnya diisi dengan ebi kemudian dibungkus dengan daun pisang hingga berbentuk kerucut, dan diikat dengan bambu kemudian di bakar. Pengkang ini disajikan bersama sambal kepah atau sambal kerang yang banyak terdapat di daerah pesisir. Saat dimakan bersama dengan sambal kepah, rasa gurih, manis dan pedasnya terasa menggoyang lidah. Panganan ini cocok untuk disantap kapan saja. Sementara sate kepah disajikan bersama bumbu kacang bertabur daun bawang dan seledri.

Sepanjang jalan didaerah Peniti, Mempawah juga banyak orang yang menjual kepah. Kepah atau kerang ini terdapat di rawa-rawa bakau di pesisir. Cangkangnya berwarna putih polos, dengan daging yang lebih besar dan tebal.

Makanan khas lainnya adalah burung Punai goreng atau bakar. Burung Punai mirip burung merpati yang berwarna hijau dan berparuh kemerahan. Jenis burung yang suka hidup berkelompok tersebut diolah menjadi menu masakan disini. Tekstur dagingnya gurih. Burung liar ini masih dapat ditemukan disekitar Pontianak dan Mempawah. Mereka di tangkap dengan cara dijaring atau menggunakan perekat.

Resto ini nyaris selalu ramai setiap harinya. Setiap pengunjung yang ingin ke Mempawah, Singkawang atau ke Entikong, wilayah perbatasan RI dengan Serawak, Malaysia Timur selalu mampir ke Pondok Pengkang. Disini mereka biasanya istirahat sambil menikmati pengkang atau pesan untuk dibawa. Resto ini juga sudah buka sejak pukul tujuh pagi hingga tengah malam.

Pondok Pengkang
Jl. Peniti Kecamatan Siantan
Kalimantan Barat
T : 0812-5780280

Comments
Search RSS
Frank   |2009-02-19 15:13:43

FOod You


Fuck :evil:
Aldy     |2009-02-20 08:17:35
Just Info, singkawang dipimpin oleh seorang Walikota bukan bupati :D krn
singkawang adalah (Pemerintah KOta) bukan Kabupaten :)

Salam,
Aldy
Anonymous   |2009-02-25 10:24:18
jatuh cinta singkawang parce qu,il y a beaucoup de repas chinois
resti   |2009-02-25 19:44:45
singkawang very uniqly... i love singkawang....
sp aj yg pngen k singkawang, gw
siap jd informan....
di tunggu... :cheer:
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Advertisement