Jalan-Jalan
Mancanegara
Monaco dari Asia
Monaco dari Asia |
| Ditulis oleh Ari | |||||||
| Kamis, 12 Maret 2009 | |||||||
Belum pernah pergi ke Monaco di Eropa? Terlalu Jauh kah?
Bagaimana bila ke Makau saja...."Monako dari Asia" ini menyimpan sejuta pesona gereja-gereja tua warisan Portugis. Sarapan egg tart dan susu cokelat di kafe kecil sepulang misa Minggu pagi serasa membawa saya ke suatu kota kecil di Portugal. Makau adalah tujuan akhir dari liburan 15 hari kami keliling Cina. Hong Kong sudah cukup membuat tenaga kami terkuras. Ransel yang ketika berangkat hanya berbobot 9 kg sudah membengkak menjadi 15 kg. Rasanya ingin sekali melewatkan Makau dan segera naik pesawat tujuan Jakarta.
Gelombang laut terasa kuat mengombang-ambingkan kapal yang membawa kami dari Hong Kong ke Makau. Ketika menjejakkan kaki di Makau, langit terlihat mendung sekali. Tak lama setelah mendudukkan pantat di bangku bus yang membawa kami ke kota, langit seolah mencurahkan semua air yang ada. Badai sedang terjadi di kota judi itu. Di balik tirai hujan deras ditingkahi lampu-lampu kota yang antik, tampak bangunan-bangunan gaya Eropa memenuhi kota. Ketika turun dari bus, badai sudah berhenti, tetapi langit masih mencurahkan air. Gawatnya lagi, kami belum dapat penginapan. Hari itu malam Minggu, banyak wisatawan pergi ke Makau. Wajar jika susah mendapatkan penginapan. Harapan kami adalah koneksi dari Hong Kong menjanjikan dua TKI yang akan menemui kami dan mengantar ke sebuah hotel tak jauh dari reruntuhan gereja Cathedral of Saint Paul. Sementara menunggu, kami banyak mengambil gambar bangunan-bangunan gaya Portugis yang mengelilingi taman. Tak kuat menggendong tas ransel yang super berat, saya dan Ika nekat berbaju hujan dan duduk disiram hujan di bangku taman. "Hey, are you waiting for rain?" tanya pria tampan peranakan Cina Portugis yang kebetulan lewat dan melihat keanehan kami.
Sampai pukul 9 pagi tak tampak tanda-tanda ada misa kudus yang digelar di gereja itu. Pintu gereja masih ditutup rapat. Dari papan juga tak tampak informasi jam-jam misa kudus hari Minggu. Akhirnya saya dan Pingkan berjalan mengikuti papan petunjuk jalan menuju ke sebuah gereja lain. Jalan menuju gereja itu mengingatkan saya pada gang-gang kecil yang berliku-liku dengan lantai dilapisi bebatuan di Italia. Di kanan kiri terdapat toko-toko dan restoran Cina dan Jepang. Pagi-pagi benar belum ada restoran yang buka, tetapi di satu kafe sudah tampak kesibukan. Kafe bernuansa cokelat itu menampilkan kesan Portugis. Para pelanggan di kale itu dilayani oleh seorang perempuan cantik separuh baya berwajah Portugis. Seusai misa kami kembali ke kafe Portugis itu untuk memesan cokelat panas dan egg tart. Di Jakarta saya sudah sering melihat gerai di mal yang berjualan egg tart Portugis, tetapi belum pernah tergoda untuk membeli. Ternyata egg tart itu enak juga. Ditambah suasana serba Eropa dalam kafe, sensasinya seperti duduk-duduk di kafe di kota kecil Eropa. Piknik kami hari Minggu itu selanjutnya adalah melihat reruntuhan Cathedral of Saint Paul atau dikenal juga sebagai Ruinas de Sao Paulo. Ini adalah tempat yang wajib dikunjungi jika jalan-jalan ke Makau dan masuk dalam situs warisan dunia UNESCO. Reruntuhan ini dulu merupakan katedral yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1582-1602 dan didedikasikan kepada Santo Paulus. Katedral itu dulunya gereja katolik terbesar di Asia, sayangnya rusak oleh api ketika terjadi badai taifun tahun 1835.
Piknik selanjutnya adalah Museu de Macau atau Museum of Macau yang terletak di Bukit Fortaleza do Monte, sebuah benteng dari abad ke-16. Di museum ini Anda bakal banyak belajar dengan media interaktif menyenangkan. Anda akan tahu apa saja isi kapal bangsa Portugis ketika berangkat dari Cina menuju Eropa. Aneka rempah-rempah, kayu cendana dari negara kita, dan kain sutra dari Cina ada di sana. Bukan hanya isi kapal, isi rumah peranakan Cina Portugis pun ditampilkan di museum itu. Selain pernak-pernik khas keturunan Tiongkok, ada juga perkakas khas Eropa, termasuk juga foto-foto pemilik rumahnya yang berdarah campuran. Wah, ternyata Makau menarik juga.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Belum pernah pergi ke Monaco di Eropa? Terlalu Jauh kah?
Akhirnya TKI asal Jawa Timur yang bernama "Koko" Ari dan Mbak
Indarti mengantarkan kami ke hotel. Mungkin penginapan itu lebih cocok
disebut losmen usang. Namun, karena kelelahan, tidur di mana pun tak
jadi soal. "Jangan lupa besok bangun pagi ke gereja," kata Pingkan,
teman saya. Minggu
pagi cuaca terlihat cerah. Berjalan sejenak dari penginapan sampai di
taman tempat kami menunggu hujan semalam. Tak jauh dari situ tampak
Gereja de Sao Domingos, sebuah gereja katolik yang didirikan di abad
ke- 17 oleh para Pastor Dominikan. Gereja tua itu merupakan situs
warisan dunia UNESCO.
Reruntuhan
katedral yang tersisa adalah facade bagian selatan. Struktur situs tua
itu dikhawatirkan ambruk dan rusak, sehingga tahun 1990-1995 ada
desakan untuk menggali fondasinya. Setelah digali, ternyata ditemukan
sejumlah artefak religius peninggalan para martir Kristen asal Jepang
dan pendiri kolese Jesuit di Makau, yaitu Pastor Alessandro Valignano.
Reruntuhan itu kini direstorasi oleh pemerintah Makau menjadi museum.
Façade. Reruntuhan itu kini disangga oleh beton dan baja supaya tidak
mudah ambruk. Bahkan, dibuat tangga baja yang memperbolehkan turis naik
ke atas facade dari belakang.



