You are here >Home arrow Kuliner arrow Kuliner-Lokal arrow Berburu Semanggi Suroboyo yang makin langka
Sat 04 Jul 2009

Berburu Semanggi Suroboyo yang makin langka

Ditulis oleh pandu   
Minggu, 08 Juni 2008
semanggi surabaya
Berbicara makanan khas di Surabaya memang tidak ada habisnya. Begitu banyak penjaja makanan yang bertebaran disudut-sudut tempat dan salah satu makanan khas yang keberadaannya makin langka dikota Pahlawan ini adalah Semanggi Suroboyo. Seperti apakah jajanan ini?
 
'Semanggi Suroboyo, Lontong Balap Wonokromo.....'
 
penggalan syair lagu yang mempertegas salah satu ikon makanan khas di Kota Surabaya adalah Semanggi. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, makanan yang berbahan baku daun semanggi ini mulai sulit ditemui. Jika pun masih ada, itu berkat segelintir orang yang masih peduli memperdagangkan. Walaupun ini adalah makanan khas Surabaya yang populer, tapi bisa dibilang cukup sulit untuk mendapatkannya karena sudah jarang.
 
Di Surabaya, Semanggi kebanyakan diproduksi oleh masyarakat sekitar daerah Benowo. Semanggi adalah sekelompok tanaman paku air (Hydropterides) dari marga (Marsilea) yang di Indonesia mudah ditemukan di sekitar pematang sawah atau tepian saluran irigasi. Secara morfologi bentuk tumbuhan ini sangat khas, karena bentuk daunnya yang menyerupai payung yang tersusun dari empat kelopak anak daun yang berhadapan.
 
Bagi yang tidak tahu makanan Semanggi tentunya akan heran ketika pertama kali menyantapnya dan mungkin akan terkesan kotor. Sekilas model penyajiannya tak jauh beda dengan Pecel dan sambal kental diatasnya.
 
Makanan khas Surabaya yang disajikan pada piring yang terbuat dari daun pisang atau disebut 'pincuk' ini terdiri dari beberapa sayur seperti daun semanggi, kecambah dan disiram dengan bumbu ketela rambat beserta sambal cabe rawit yang pedas. Untuk menikmatinya, akan semakin mantap jika dimakan dengan krupuk puli yaitu krupuk yang dibuat dari beras.
 
Keberadaan makanan Semanggi yang makin hari makin tenggelam dan langka, tak menyurutkan niat LeZAT untuk berburu Semanggi di beberapa tempat. Berikut beberapa tempat penjual semanggi yang sempat LeZAT temui:
 
Penjual Semanggi gendongan

Para penjual Semanggi kebanyakan adalah wanita paruh baya keatas. Mereka menjajakan Semanggi ke seluruh pelosok kota Surabaya dengan menggendong di punggung dan berjalan kaki. Pada pagi hari, para penjual Semanggi berkumpul di perempatan Sendangbulu, dekat perumahan Bukit Palma. Mereka menunggu jemputan dari angkutan yang setia mengantarkan mereka ke pelosok kota Surabaya.
 
Jadi jika Anda lagi puter-puter kota Surabaya dan melihat ibu dengan bakul yang digendong di belakang dengan tumpukan krupuk puli maka dialah sang penjual semanggi Suroboyo.
 
Seperti yang dijumpai LeZAT di sekitar kawasan Diponegoro dekat pemberhentian bis. Sebuah angkutan umum berhenti, tampak beberapa wanita paruh baya itu dengan berpakaian kebaya dan berjarit beranjak turun. Di depannya terdapat bakul tempat dagangannya dan tak lupa krupuk puli dalam kantung plastik yang cukup besar.
 
Sunarti atau mak Ati, demikian dia dipanggil hanyalah seorang pedagang Semanggi pada umumnya. Sudah hampir 20 tahun ia berjualan Semanggi secara keliling dengan rute sekitar kawasan Diponegoro, Genteng dan sekitarnya. Memang tiap hari Mak Ati menjajakan Semanggi tidak menetap tempatnya. "Biasanya saya paling sering berhenti sebentar di kantor-kantor atau sekolahan, ya...lumayan dapatnya", tuturnya.
 
Dengan gendongan Semanggi yang berada di punggung, dalam sehari Mak Ati bisa menjual Semanggi sebanyak antara 50 sampai 80 pincuk dengan harga perporsi 3.500 rupiah. "Ya... tergantung rame sepinya pembeli, kalau rame ya rejeki saya dan bisa pulang cepat. Tapi kalau jualan saya sepi, ya musti keliling-keliling, kadang sampai larut malam", ujar Mak Ati yang tinggalnya di daerah Kandangan.
 
Hampir semua pedagang Semanggi gendongan ini menawarkan harga Semanggi yang relatif terjangkau, dengan rasa yang cukup nikmat. Untuk penyajiannya seperti pada umumnya, namun seporsi sayur Semanggi ditambah sayuran kangkung atau daun lembayung (daun ubi), lalu sambal dan krupuk puli lebar.
 
Gerai Semanggi Top Suroboyo (STS)

Ingin menikmati Semanggi, namun sulit menemukan penjual Semanggi gendongan, ini tak jadi soal. Kita bisa menikmati Semanggi Top Surabaya (STS) di sebuah gerai tempat makan. STS memang belum membuka kedai sendiri. Hampir selama 13 tahun ini, STS berjualan di Rumah Makan Antariksa di Jl Diponegoro.
 
Sumarni, 27 th, penjual Semanggi STS yang sempat dijumpai LeZAT saat mengikuti even Festival Jajanan Surabaya menceritakan awal berjualan Semanggi ini karena suka makan Semanggi. "Saya suka Semanggi. Selain khas Surabaya, makanan ini bergizi dan berserat. Selain itu dari nenek hngga ibu saya juga berjualan Semanggi, jadi saya ikutan saja. Kebanyakan pembeli memuji sambal Semanggi di sini cukup sedap rasanya dan resepnya saya peroleh dari nenek saya", tuturnya.
 
Untuk mendapatkan Semanggi segar, setiap dua atau tiga hari sekali, warga kawasan Jelidro, Sambikerep ini pergi ke Kandangan, Benowo. "Satu kali kulakan, saya ambil lima timba. Untuk harga satu timbanya cukup murah kok. Dan begitu matang semanggi-semanggi ini saya jual seharga 8.500 rupiah per porsinya. Itu sudah lengkap dengan sambal dan krupuk",  lanjut Suwarni yang tak mau menyebutkan harga semanggi segar.
 
Menikmati Semanggi di hotel berbintang

Makanan khas ini selain dapat ditemui dari pedagang keliling, pujasera ternyata ada juga lho di hotel berbintang tepatnya di Hotel Surabaya Plaza. Dengan membidik kalangan menengah, sajian Semanggi di hotel ini laris juga dipesan tamu. Tidak hanya para tamu yang menginap di hotel saja yang bisa menikmati, tapi dibuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin menikmati Semanggi.
 
'Sudah hampir 2 tahun ini, kami menyajikan Semanggi makanan khas Surabaya yang keberadaannya hampir punah. Banyak orang bilang untuk menikmati Semanggi itu susah mencari tempatnya. Nah, Hotel Surabaya Plaza selain ingin melestarikan ragam makanan tradisional tersebut juga untuk memanjakan mereka yang ingin menikmati Semanggi", jelas Feby Kumalasari selaku Public Relation hotel tersebut.
 
Untuk menikmati Semanggi ditawarkan seharga 10.000 rupiah per porsi. Anda bisa bertandang dari jam 12 siang hingga jam 6 sore setiap hari. 'Semanggi ini memang paling cocok dinikmati saat siang hari. Yang membuat Semanggi ini sedap dinikmati itu tergantung dari campuran bumbu yang digunakan, seperti bawang putih ataupun petis udangnya",  jelas Chef Ana sambil meracik Semanggi.
 
Anda penasaran ingin menikmati Semanggi?
Comments
Add New Search RSS
leolintang  - Nah...   |SAdministrator |2008-06-10 15:20:55
avatar Kayanya yang ini kudu dimakan.. belum pernah coba soalnya.. :cry
PRINCESS HARIATI  - CRAZY..!!     |125.160.195.xxx |2009-01-16 23:17:08
javascript:JOSC_emoticon(":shock:"):
BUSSETT.., semanggi seporsi Rp. 10.000,-??
Di pasar deket rumah quw aja kata nyokap,
semanggi cuman Rp. 500,- paling mahal Rp. 1000,- seikat
(banyak bo...).
Kalo cuman dijadiin pecel doang ci paling nambah Rp.
2000,- buat beli bumbu pecel bungkusan.
Tp, quw setuju tuh ama kamu,
nih makanan kayaknya patut dicoba deh.
:)
ikecute   |Author |2008-07-28 13:09:36
avatar o gitu ya...gue cm tau rujak cingur doang malah di surabaya...hehehehe
kynya
enak tuh...cuma di Jakarta ga ada ya mas?
cak-lau   |202.152.166.xxx |2008-08-21 17:06:31
Sebagai info tambahan :
Food Court Tunjungan Plaza 3 yg di lantai atas,
restoran khas surabaya.
Food Court Surabaya Plaza
Gelael ( tapi yg ini sudah
lama sekali , apakah sekarang masih ada hrs di check)
Silahkan di coba.
Saya
rekomendasikan karena ini termasuk makanan favorit saya setiap kali saya pulang
ke surabaya.
nana  - journalist     |202.148.10.xxx |2009-01-02 21:11:43
wah, nemu semanggi Rp. 3500 dimana ya mas?? Kapan itu aku makan semanggi di
pasar genteng. Harganya Rp 6000 per porsi. Itu lebih mahal daripada paket
goceng-nya KFC atau McD.
Pertamanya agak kaget sih, karena biasanya di kampus
cuma Rp 4000an. Tapi kemudian bangga, karena makanan tradisional Surabaya
harganya bisa lebih mahal daripada fast food. Dan ibu ini lumayan laris juga,
karena bumbunya enak banget.

Ini cocok untuk menepis anggapan bahwa makanan
tradisional sudah kalah pamor sama makanan impor. Soal makanan, semua memang
tergantung rasa, bukannya brand. Buktinya, sate kelapa ondomohen bisa laris
segila2 gitu walopun tempatnya di pinggir jalan yang nggak proper. Begitu juga
Soto Madura Gubeng Pojok. Salah satu makanan tradisional di mal, Rujak Cingur
Delta jauuuuuh lebih rame daripada konter A&W di depannya. Pada jam makan, saya
harus selalu ngantri dulu supaya dapet tempat duduk.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >


Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
feed image