Nikmatnya Mendaki Naga Raksasa di Cina |
|
Ditulis oleh Ari
|
|
Sabtu, 20 Juni 2009 |
KEDIGDAYAAN leluhur China tersimbolkan pada dinding Tembok Raksasa China (Great Wall). Di situlah akar sejarah terbesar bangsa Tionghoa.
Bulir-bulir keringat mengucur di wajah para turis yang mendaki
Tembok Raksasa China. Sekali-kali, mereka berhenti dan menegak air
mineral demi mengguyur kerongkongan yang kering. Memang butuh stamina
prima untuk menuntaskan petualangan di Great Wall. Terlebih, jika
kunjungan mereka dilakukan di tengah teriknya sinar matahari.
Namun, di balik kelelahan fisik, senyum keceriaan tetap terpancar dari
wajah para turis. Mereka tampak begitu bangga bisa menaklukkan Great
Wall yang jika dilihat dari angkasa tampak seperti liukan naga raksasa.
Rasa lelah sirna jika tiba di puncak Tembok Raksasa. Betapa tidak,
selembar "sertifikat kelulusan" diberikan kepada mereka yang mampu
menaklukkan situs peninggalan sejarah dari tiga dinasti ini.
Tembok Raksasa China memang luar biasa. Ibarat kata, tak afdol rasanya
jika ke China tak mendaki si Naga Raksasa. Di luar faktor panorama alam
yang begitu indah di sekitar Tembok Raksasa, sejarah pembangunan situs
itu pun turut memancing minat para wisatawan berkunjung ke China.
Banyak alasan yang melatarbelakangi mengapa Great Wall begitu
melegenda. Bangunan tembok sepanjang 4.183 mil atau 6.700 km yang
terbentang mulai Bedaling di Distrik Yangqing, Mutianyu di Distrik
Huairou, dan Juyongquan di Changing, ini konon dibangun dengan menelan
korban nyaris sampai tiga juta jiwa.
Tembok yang bisa
dinikmati dari angkasa luar ini dibangun oleh tiga Dinasti Qin, Han,
Ming. Pertama kali didirikan pada abad 7-6 Sebelum Masehi, tepatnya
saat pemerintahan Dinasti Qin. Kaisar Qin pertama, yakni Qin Shi Huan,
mendirikan bangunan itu untuk melindungi negerinya dari serangan bangsa
Xiongnu.
Pembangunan beberapa tembok kemudian dilanjutkan
sampai ke wilayah utara pada masa Dinasti Han dan Ming pada abad 14-17
Masehi. Tujuannya juga sama memproteksi diri dari serangan bangsa lain,
terutama invasi bangsa Manchu. Bahkan, Kaisar Ming pernah memerintahkan
satu juta pasukannya untuk menjaga tembok raksasa yang jadi benteng
pertahanan terakhir itu.
Keunikan dan kisah-kisah sejarah
itulah yang menggelitik rasa penasaran para wisatawan. Tak pelak,
setiap masa liburan tiba, ribuan pengunjung dari berbagai negara
memadati setiap sisi si Naga Raksasa. Mereka tak peduli panas dan
kelelahan saat mendaki demi mengagumi tembok raksasa itu.
Mencapai Great Wall dari pusat Kota Beijing tak begitu sulit. Banyak
moda transportasi yang bisa dipilih, mulai bus kota maupun kereta api
bawah tanah tergantung start dari mana. Jika hendak ke pintu Great Wall
Badaling dengan menggunakan bus misalnya, pengunjung bisa memulai
perjalanan dari terminal Deshengmen, Beijing, atau dari stasiun kereta
api bawah tanah Jishuitan. Kendaraan-kendaraan itu mulai start pukul
05.50 waktu setempat dan kembali pukul 18.30. Rute ini merupakan rute
terpendek karena hanya memakan waktu 1-2 jam.
Namun, untuk bisa
masuk ke wilayah itu, pengunjung harus mengeluarkan kocek 45 yuan atau
sekitar Rp58.500 (kurs Rp1.300) untuk tiket masuk. Bahkan, untuk
mengurangi rasa lelah, para turis juga bisa menggunakan jasa kereta
gunung dengan tiket senilai 60 yuan. Jadi, mereka tak perlu mendaki
terlalu jauh. Malah ada juga jasa skylift yang bisa membawa pengunjung
dari kawasan Great Wall satu ke kawasan lainnya.
Jalur lainnya adalah pintu Mutianyu. Untuk mencapai pintu Great Wall ini dimulai dari terminal bus dan subway Dongzhimen. Perjalanan memakan waktu 2-3 jam. Sementara tiket masuk ke tempat itu mencapai 40 yuan.
Terakhir, pintu Juyongquan. Untuk mencapai pintu itu bisa menggunakan
bus dari Deshengmen dan Stasiun Jishuitan. Perjalanan menuju lokasi
mencapai 2-3 jam dengan tiket masuk 45 yuan.
Yang pasti,
lewat tiga pintu itu, tersaji keindahan alam dan kemegahan Tembok
Raksasa China. Bahkan, khusus pintu Bedaling, juga berdiri bangunan
Museum Great Wall yang menyimpan semua peninggalan sejarah yang
berkaitan dengan tembok raksasa. Termasuk alatalat berumur ribuan tahun
yang digunakan untuk membangun tembok raksasa itu.
|