Kuliner
Kuliner-Lokal
Bia Kolobi Memang Menyengat Lidah
Bia Kolobi Memang Menyengat Lidah |
| Ditulis oleh andri kurniawan | |||||||
| Jumat, 26 Juni 2009 | |||||||
|
Penjual belum sempat menanyakan akan memesan berapa tusuk, saya langsung menyahut dua puluh tusuk. Padahal belum tahu rasa makanan yang belum terlalu familiar di lidah ini. Waktu
menunggu sekitar 15 menit ditemani musik dari televisi dan VCD player
yang memutar kencang lagu-lagu daerah Manado semakin membuat waktu
berjalan lambat. Sementara dari tadi, indra pencium saya yang disengat
bau harum bia kolobi yang sedang dibakar dnegan margarin oles.
Akhirnya, penantian berakhir sudah, indra perasa alias lidah juga
“disengat” oleh bumbu yang rasa pedasnya hingga ke ubun-ubun. Tetapi
sate keong ini sangat kenyal dan bumbunya pun terasa hingga ke dalam
daging si keong yang dibakar. Apalagi
menikmati makanan khas pedesaan ini ditemani semilir angin di tepian
sawah, sungguh semakin mengundang selera. Selain bia kolobi, di tempat
itu juga menyajikan ikan bakar dan teri woku yakni teri basah yang
ditumis pedas. Saya sudah
kewalahan untuk menghabiskan 20 tusuk bia kolobi karena pedasnya yang
tak hilang di lidah meski sudah diberi minum air bergelas-gelas. Tetapi
untung ada dua teman saya asal Saat
seru-serunya merasai pedas hingga membuat mata berkaca-kaca, tiba-tiba
lampu mati. Gelap gulita hanya terlihat nun jauh lampu-lampu kecil di “Maaf
ya, Nak, di sini memang sering mati lampu. Maka kami semua yang punya
warung sudah sedia genset, kalau mati lampu seperti ini. Oke sekarang sudah pakai genset, silakan lanjutkan,” uajr pemilik warung. Saya sempat deg-degan saat lampu mati. Gelap gulita dan lidah seperti terbakar si kolobi, benar-benar penuh kenangan makan kolobi ini. Yang jelas, mata saya sebelumnya seperti lengket dalam perjalanan dari danau menuju ke kedai kolobi. Tetapi setelah si kolobi digilas mulut, saya benar-benar tak lagi merasa ngantuk. Sungguh, bia kolobi obat rasa ngantuk yang paling mujarab. Satu jam perjalanan dari Tondano ke Manado selama satu jam pun, saya masih terjaga padahal kekenyangan biasanya mengantuk…
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





