|
Ditulis oleh andri kurniawan
|
|
Selasa, 30 Juni 2009 |
 DI BEIJING, China, dan bagian timur laut Tiongkok dikenal masakan bernama shuan yang rou.
Makanan ini berupa irisan tipis daging domba yang dimasak di panci
berisi air mendidih dan biasa dinikmati pada musim dingin. Masakan ini
kemudian dibawa masuk ke Jepang oleh orang Jepang yang pernah tinggal di Manchuria. Pemilik rumah makan Junidanya yang menjual ochazuke dan mizutaki di Kyoto mendengar tentang kebiasaan makan di Tiongkok dari orang yang pernah tinggal di sana. Pemilik rumah makan, lalu mendapat ide untuk meletakkan irisan tipis daging sapi di atas nasi dan dimakan secara ochazuke
dengan cara menyiramkan teh hijau panas di atasnya. Pada 1952, Restoran
Suehiro di Osaka mulai menghidangkan masakan dari irisan tipis yang
diberi nama shabu dan berhasil mendapatkan merek dagang untuk masakan
ini tahun 1955.
Pada zaman dulu, shabu dimasak di atas kompor
arang sehingga di tengah-tengah panci shabu sengaja dibuat lubang
seperti cerobong untuk memasukkan arang. Di Tiongkok, panci semacam ini
disebut huo guo zi.
Menurut Supervisor Shabu Shabu
House EX Plaza Yulianto Kurniawan, shabu berasal dari Osaka yang
kemudian diekspansi ke seluruh dunia. Sebenarnya inti dari shabu adalah
masakan rebusan yang cara memasaknya digoyang. Jadi, orang Jepang
memasaknya sambil meneriakkan shabu. Karena digoyang berulangulang,
jadilah masakan ini bernama shabu shabu.
|