Mengenal Kailan, Brokoli ala China |
|
Ditulis oleh andri kurniawan
|
|
Selasa, 30 Juni 2009 |
 PADA masakan China, kita kerap mendapati menu
berbahan dasar kailan. Kailan merupakan sayur berdaun tebal, datar,
mengkilap, berwarna hijau dengan batang tebal dan sejumlah kecil kepala
bunga berukuran kecil hampir vestigial, mirip dengan bunga pada brokoli.
Kailan termasuk dalam spesies yang sama dengan brokoli dan kembang kol, yaitu brassica oleracea.
Kailan menjadi salah satu sayuran favorit hampir setiap orang. Dengan
cirinya yang berwarna hijau, kailan mempunyai banyak manfaat. Di
antaranya merupakan sumber vitamin K yang sangat baik untuk membantu
proses pembekuan darah. Konsumsi 100 gram kailan dapat memenuhi 141
persen kebutuhan tubuh akan vitamin K setiap hari. Kailan
kaya berbagai vitamin, termasuk vitamin A yang baik untuk kesehatan
mata. Sayur berwarna hijau ini juga mengandung isotiosianat, senyawa
penangkal kanker. Di Indonesia, meski merupakan jenis sayuran baru,
kailan sudah jadi kegemaran banyak keluarga.
Dalam Chinese food,
sayuran ini sering jadi pilihan utama, terutama dalam masakan Kanton.
Nama kailan sendiri berasal dari bahasa Kanton, dalam bahasa Mandarin
disebut jielan. Sayuran ini sangat populer di China daratan. Karena itu, dalam bahasa Inggris disebut Chinese broccoli atau Chinese kale.
Kailan merupakan sayuran pegunungan. Tanaman ini tumbuh subur pada suhu
18- 28 derajat Celsius. Saat masih muda, tanaman ini bukan hanya
menyukai hujan banyak, juga matahari yang terik. Waktu panennya relatif
pendek, berkisar 50-70 hari sehingga mudah ditemui di pasaran. Kailan
yang dipanen pada pagi hari sebelum matahari terbit, rasanya lebih
renyah dan mengandung banyak air.
Akhir-akhir ini juga dikenal baby kailan. Secara umum tidak berbeda dengan kailan biasa, kecuali ukuran yang lebih kecil. Baby kailan
ditanam seperti kailan biasa, tetapi bedeng penanaman dinaungi tenda
plastik. Batang dan tangkai daun tumbuh panjang dan lunak, tapi panjang
keseluruhan tanaman ketika dipanen hanya 10-15 cm. Panen umumnya
dilakukan 30 hari sesudah biji ditanam.
|